News Update :

Video Ceramah

Ibadah

Ceramah Islam

Doa Doa Shahih

Tampilkan postingan dengan label Buku dan Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku dan Resensi. Tampilkan semua postingan

Bagaimana cara memBangun Budaya membaca dan Menulis ???

10 November 2011 12.30


Mungkin dari kita semua sudah mengetahui melalui media Televisi, radio, internet, koran, dan lain sebagainya yang menyerukan supaya pada diri kita menumbuhkan minat untuk membaca dan menulis. Memang himbauan tersebut sangat bagus, namun usaha atau himbauan tersebut tidak akan pernah terlaksana tatkala tidak adanya sarana dan prasarana yang menunjang bagi masyarakat.

Seperti kita ketahui bersama bahwa rakyat indonesia ini tergolong dalam ekonomi lemah, jangankan untuk membeli sebuah buku, buat beli makanan sehari-hari saja tidak cukup. Maka dari itu diperlukan suatu usaha dari pemerintah untuk merealisasikan dari himbauan untuk menumbuhkan minat baca tersebut, salah satunya yaitu dengan membangun sarana dan prasana untuk kegiatan tersebut.

Pemerintah seyogyanya membangun suatu perpustakaan di tingkat Desa, atau lebih bagus lagi sampai pada tingkat RT ataupun RW. Tidak hanya pemerintah saja, para penerbit-pun juga harus mempunyai andil untuk merealisasikan himbauan tersebut, yakni dengan cara menjual buku-buku dengan harga murah yang terjangkau oleh masyarakat golongan menengah.

Selain itu juga para penerbit-pun harus sering-sering mengadakan suatu event tentang perbukuan. Dengan adanya event-event tersebut setidaknya akan turut serta membantu masyarakat mengenalkan dan menggiring masyarakat untuk menumbuhkan minat membaca dan menulis.

Dengan dukungan beberapa pihak seperti penerbit, orang tua, motivator, maka usaha pemerintah untuk membangun budaya membaca dan menulis niscaya akan terealisasi. Yang jelas, faktor sarana dan prasarana harus ada karena mengingat situasi dan kondisi masyarakat kita yang masih dalaam kategori ekonomi menengah ke bawah. Semoga dengan adanya faktor sarana dan prasarana tersebut, masyarakat kita akan mempunyai minat baca dan menulis yang tinggi sehingga mampu bersaing dengan negara lain yang sudah berkembang dan maju.

Semoga artikel diatas dapat bermanfaat bagi kita semua. amien.....

Jadikan Buku sebagai Kawan Anda !!!!

11 November 2009 11.32


Apakah anda ingin membuka tirai atau jendela dunia ???? maka bacalah buku !!!! dengan membaca buku jendela dunia akan terbuka lebar di hadapan kita dan akan membawa dunia ini dekat dengan kita. Ada pepatah mengatakan "Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku adalah jendela dunia.". Pepatah ini rasanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah yang tak pernah usang oleh waktu. Dan ini saya yakini dengan sepenuh hati. Tentu saja, karena buku harus menjadi sahabat dalam hidup kita. Buku juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Dengan buku kita bisa melihat sisi lain dari dunia kita ini yang ternyata sangat bermacam-macam bentuknya. Membuat kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Mengapa kita harus berkawan atau mencintai buku ??? yang pasti ada suatu alasan yang mendasari seseorang mencintai sebuah buku. Diantara alasan mengapa saya mencintai buku dikarenakan, Pertama, Buku selalu mengeluarkan hal-hal yang baru atau istilahnya up to date. Kedua, Buku kaya akan imajinasi-imajinasi. Dengan Membayangkan apa yang tertulis di buku membuat kita seperti membangun imajinasi versi pikiran kita sendiri. Mengajak diri kita untuk berkreasi dengan menenggelamkan diri dalam alur atau setting yang terdapat dalam buku. Itu menjadikan kita belajar untuk mengerti dunia lain yang sebelumnya tak pernah terpikir oleh kita. Ketiga, Dengan membaca buku kita akan tergerak untuk menuliskan kembali hal-hal yang berhubungan dengan buku tersebut bahkan akan menyempurnakan buku yang telah kita baca tersebut.

Mari kita bersahabat dan mencintai buku. Rasakan kehadiran mereka sebagai jendela untuk kita melihat masa depan di hadapan. Jadikan keberadaan mereka sebagai jembatan untuk kita berusaha menjadi makhluk Allah yang mencintai ilmu. Dibawah ini akan saya kutipkan beberapa nasehat dari para ulama dan para sahabat tentang keutamaan sebuah Ilmu sehingga akan terdorong hati kita dalam mencari Ilmu.

Buya Hamka, seorang penulis dan ulama besar Indonesia pernah berkata kepada muridnya :

Cobalah tulis dari hatimu dahulu. Tangkap ide yang berkelebat agar tak segera lenyap. Alirkan apa saja emosi dan pikiran yang ada di benak dan hatimu. Biarkan ia mengalir sebebas-bebasnya hingga mencapai keutuhan dan garis besar tulisan. Setelah itu barulah kumpulkan serta siapkan data-data pendukung dalam tulisanmu agar ia lebih berbobot dan argumentatif.


Imam Ali berkata : “Tubuh kita ini selalu melewati enam keadaan : sehat, sakit, mati, hidup tidur, dan bangun. Hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan matinya adalah akibat ketiadaan ilmu. Sehatnya hati adalah berkata keyakinan, sakitnya adalah keraguan. Tidurnya hati adalah kelalaian, dan bangunnya hati berasal dari dzikir yang dilakukan.”

Dari Mua’adz bin Jabal r.a, ia berkata : “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya adalah kebaikan, mencarinya adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, mendalaminya adalah jihad, mengerjakannya kepada orang yang belum mengerti adalah sedekah, mengingatkannya kepada orang yang sudah mengerti adalah taqqarub. Ilmu adalah teman di waktu sepi, kawan dalam pengasingan, penunjuk jalan kesenangan, penolong dalam kesulitan, hiasan di tengah-tengah kawan, dan senjata dalam menghadapi musuh. Ilmu dapat menghidupkan hati dari kebodohan, pelita dari kegelapan, kekuatan dari segala kelemahan, sarana untuk mencapai derajat orang-orang yang baik sewaktu hidup di dunia maupun di akhirat. Ilmu merupakan pemimpin dan amal adalah pengikutnya.


Semoga hati kita tergerak untuk dapat mencintai Ilmu dengan cara membaca dan bersahabat dengan buku. Semoga bermanfaat bagi kita semua. amien.....

Pilih dan Bacalah Buku yang Bergizi Tinggi

09 November 2009 12.07


Buku ibarat Makanan yang selalu kita konsumsi setiap hari, lantas apa hubungannya buku dengan makanan ???? begini...apabila kita mengkonsumsi makanan yang salah atau makanan yang tidak sehat maka secara otomatis badan kita akan lebih mudah terserang penyakit, begitupula dengan buku, apabila kita mengkonsumsi (membaca) buku yang tidak sehat maka pikiran kita juga akan sakit.

Sekarang ini banyak buku yang sudah dicetak dan dijual di masyarakat, namun tidak semuanya buku tersebut buku yang mempunyai gizi yang tinggi, dan memiliki pengaruh yang positif terhadap otak kita. Jadi kita harus pandai-pandai memilah dan memilih buku-buku yang sekiranya dapat membangkitkan efek yang positif dalam diri kita.


Jadi..tidak semua makanan dan buku itu mempunyai gizi yang baik, kalau kita salah dalam memilih buku, maka pikiran kita akan rentan terkena penyakit. Yang harus kita pikirkan terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi buku adalah pertama, apakah buku yang akan kita konsumsi tersebut dapat mempunyai dampak yang posisitf terhadap diri kita. Kedua, apakah buku yang akan kita konsusmi dapat merubah paradigma berfikir yang salah dalam diri kita. Ketiga, pilihlah buku yang bisa memberi dampak positif terhadap orang lain selain diri kita sendiri, jadi buku tersebut tidak hanya untuk pribadi kita sendiri akan tetapi buku yang kita konsumsi tersebut juga dapat mempengaruhi efek positif terhadap orang lain. "Sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat untuk yang lainnya"

Cara Cepat Mencari Ide Untuk Menulis

22 Oktober 2009 13.37


Kebanyakan dari kita pada saat mau menulis adalah menentukan sebuah ide yang akan kita tulis. Benar tidak ? seringkali kita terbentur dengan sebuah tema atau ide yang akan kita tulis. Berbagai macam alasan dalam benak kita yang sering kita keluarkan, entah itu alsan karena tidak ada mood atau sedang malas, namun dibalik itu semua pasti dikarenakan kita tidak mempunyai ide brilian yang bisa memacu semangat kita untuk menulis, itu yang babahe alami sendiri.

Nah..pada kesempatan kali ini babahe akan memberikan sebuah ebook tentang bagaimana mencari ide supaya kita bisa menulis dengan cepat. Ebook ini berjudul "1000 Quick Writing Ideas". Ebook tersebut sangat bagus untuk kita baca sehingga bisa menimbulkan semangat kita untuk menulis dan menciptakan ide-ide kreatif dalam menulis.

Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan ebook tersebut, silahkan di unduh dibawah ini :



Oke..mungkin sedikit informasi dari babahe, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Amien.....

Mengapa Kita Perlu Membuat Resensi Buku

18 Maret 2009 14.56


Banyak diantara dari kita semua sehabis membaca sebuah buku lalu hilang begitu saja tanpa bekas apa yang terdapat dalam buku tersebut. Nah, solusi supaya kita dapat mengingat-ingat kembali buku apa saja yang telah kita baca maka diperlukan sebuah resensi buku. Mengapa harus membuat resensi buku ????

  • Pertama, dengan meresensi sebuah buku, kita akan teringat kembali dengan buku apa saja yang telah kita baca karena tercatat dalam agenda resensi.
  • Kedua, dengan merensi sebuah buku, berarti kita mengikatkan sebuah makna buku (seperti Mas Hernowo bilang dalam bukunya "mengikat makna"). Dengan mengikat sebuah makna buku, kita dapat mengetahui point-point penting dalam sebuah buku
  • Ketiga, Meresensi sebuah buku tidak hanya sekedar merangkum sebuah buku, tetapi lebih dari sekedar itu, kita dapat memberikan kritikan sebuah buku selain sanjungan terhadap buku tersebut sehingga kita dapat mengetahui suatu kualitas buku tersebut.
  • Keempat, Dengan membuat resensi buku berarti secara tidak langsung kita juga belajar menulis buku. Dengan begitu kita dapat mengembangkan ide-ide dari buku tersebut.
  • Kelima, Dengan membuat resensi buku kita bisa mendapatkan penghasilan dengan cara mengirimkan ke penerbit-penerbit buku dan itu adalah salah satu pemasukan keuangan.

Mungkin itulah alasanku mengapa kita perlu membuat sebuah resensi buku. Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Asma Nadia. Semoga dengan uraian yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita semua. amien.....

Mari Kita Meresensi Buku.....

14.49


Judul artikel ini merupakan lanjutan dari artikel saya yang berjudul Mengapa Kita Perlu Membuat Resensi Buku. Artikel ini saya ambil dari iwananashaya yang juga membahas tentang resensi buku. Silahkan dibaca dan disimak artikel dibawah ini :

Keuntungan menulis resensi buku.

Seseorang yang menekuni resensi buku di media massa akan memperoleh keuntungan ganda. Di samping ia akan memperoleh honor dari penerbit surat kabar, ia juga akan memperoleh honor dari penerbit buku, setelah ia menyerahkan kliping resensinya yang dimuat di media massa.

Tidak hanya itu, ia juga dapat memperoleh buku baru secara gratis yang diberikan penerbit buku untuk diresensi kembali. Kedudukan peresensi adalah mitra penerbit buku dan penerbit surat kabar. Ia memberikan jasa bagi surat kabar dan juga memberikan kesempatan iklan gratis bagi penerbit buku. Jangan heran, jika suatu saat penulis resensi, secara tidak terduga dapat diangkat sebagai tim khusus peresensi, dari suatu penerbit buku, tentunya dengan gaji yang khusus.


Memahami inti resensi.

Kata resensi berasal dari bahasa Belanda recensie. Orang Belanda mengambil kata tersebut dari Bahasa Latin recensere, yang bermakna memberi penilaian. Dalam Bahasa Inggris digunakan review untuk mengupas isi buku, pertunjukan musik, seni tari, seni lukis, film, drama dan sebagainya.

Dari asal kata di atas, resensi buku dapat dipahami sebagai langkah memberikan penilaian, mengungkapkan kembali isi buku, memberikan ulasan, membahas, mengkritik ataupun meringkas. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku ialah untuk menginformasikan apa saja yang termuat dalam buku itu secara sekilas kepada orang lain.

Di dalam prakteknya, khususnya di media massa, resensi buku lebih banyak dimanfaatkan sebagai suatu cara memperkenalkan atau mempromosikan buku-buku baru dari penerbit kepada masyarakat umum melalui media cetak.

Istilah resensi buku di beberapa koran atau majalah, sering diganti dengan penyebutan lain, yang intinya tetap sama, seperti: apresiasi buku, info buku, bedah buku, tinjauan buku, timbangan buku, rehal, maktabah, sorotan buku, ulasan buku, berita buku dan sebagainya.

Hendaknya peresensi memahami dulu tujuan resensi itu sendiri. Tujuan dari kehadiran rubrik resensi pada media massa lebih lanjut ialah:
a. Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam buku.
b. Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau masalah yang muncul dalam sebuah buku.
c. Memberikan pertimbangan kepada pembaca, apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
d. Menjawab pertanyaan yang muncul jika seseorang melihat buku baru terbit, seperti: Siapa pengarangnya? Mengapa ia menulis buku itu? Apa pernyataannya? Bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang ditulis penulis lain? dsb.
e. Agar pembaca memperoleh bimbingan dalam menilai buku-buku.
f. Agar setelah membaca resensi, pembaca berniat membaca atau mencocokkan seperti apa yang telah ditulis dalam resensi.
g. Bagi yang tidak ada waktu untuk membaca buku, ia dapat mengandalkan resensi sebagai sumber informasi.


Tipologi resensi.

Ada beberapa tipe resensi buku, yang semuanya bertujuan menginformasikan isi buku tersebut. Masing-masing resensi tersebut memiliki kekurangan dan kelabihannya masing-masing. Tipologi resensi tersebut ialah:
a. Meringkas. Setiap buku tentu memaparkan berbagai macam persoalan. Dan dari sekian persoalan yang ada dalam sebuah uraian yang ada dalam sebuah buku, dapat diringkas menjadi uraian yang padat dan jelas.
b. Menjabarkan. Adakalanya sebuah buku sangat sulit dipahami oleh kaum awam, seperti pada buku-buku jenis terjemahan atau disiplin ilmu tertentu. Maka tugas peresensi di sini adalah menjabarkan muatan isi buku tersebut sebisa mungkin. Hal tersebut memang tidak mudah. Untuk itu tidak bisa gegabah dengan menganggap mampu pada buku yang berada di luar bidang keilmuannya. Bilapun akan dicoba juga, maka ia hendaknya meminta bantuan komentar kepada yang dipandang ahli di bidangnya.
c. Menganalisis. Resensi jenis ini, lebih berupa memberikan analisa atau ulasan terhadap segala aspek yang ada dalam buku tersebut. Mulai dari metode penulisannya, cara pemaparannya, maupun materi atau isinya. Dengan demikian, seorang penulis resensi buku jenis ini membutuhkan seperangkat wawasan keilmuan yang cukup luas dan dalam serta memadai berkaitan dengan buku yang diresensinya. Tanpa itu, sulit suatu resensi dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
d. Membandingkan. Dapat juga meresensi dilakukan dengan cara membandingkan dengan buku-buku sejenis yang pernah ada. Buku yang terbit belakangan dapat diperbandingkan, baik dalam hal materi, penampilan data, cara pemaparan, teknik penulisan dan sebagainya. Di samping ia juga menyebutkan kekurangan dan kelebihan buku tersebut dibandingkan buku-buku yang lainnya. Dengan demikian akan terlihat jelas kualitas masing-masing buku tersebut.
e. Memberikan penekanan. Buku-buku bunga rampai atau kumpulan tulisan, dapat diresensi dengan cara ini. Karena begitu banyak masalah dan kadang sejumlah masalah tersebut, ditulis oleh banyak orang, sehingga membuat penulis resensi sulit menentukan maslah mana yang perlu ditonjolkan. Untuk itu perensensi dapat mengambil benang merah di antara tulisan-tulisan tersebut, kemudian dipadukan dengan pendapat tokoh-tokoh yang sudah punya nama di antara penulis yang ada.


Teknik menangkap inti buku.

Prinsip meresensi buku adalah mencari tema pokok dari buku itu. Teknisnya, dengan cara memberi uraian dalam bentuk ringkasan, ulasan, atau kajian dari setiap persoalan yang berkaitan erat dengan tema buku itu.

Keragaman dan jenis buku sering menjadi sebab seorang penulis resensi gagal, karena tidak berhasil menemukan temanya. Agar tidak demikian, maka sebelum meresensi yang perlu dilakukan adalah memahami buku tersebut dengan cara membacanya, dengan pembacaan sesuai dengan kebutuhan.

Ada beberapa cara membaca yang dipandang efektif, yaitu (1) selection, (2) skepping, (3) scanning.

Hal-hal mendasar perlu dibaca ialah: (1) kata pengantar dan pendahuluan, (2) daftar isi, (3) ringkasan buku yang biasa terdapat pada bagian belakang, (4) hal-hal yang dianggap penting. Catat hal-hal yang dianggap penting. Setelah itu, catatan tadi dirumuskan dalam suatu alur penulisan yang baik.


Bagaimana berlatih menulis resensi buku?

Untuk mulai berlatih, seseorang dapat melatih pandangannya, melatih pengorganisasian pikirannya, serta melatih pula perasaan dan kepekaannya. Caranya? Ambil buku ukuran tipis, beserta sebuah pensil. Lalu baca buku itu dengan seksama. Sambil membaca ia gunakan pensil itu untuk memberi tanda pokok-pokok pikiran yang penting. Setelah selesai membaca, ia mencoba membaca ulang pokok-pokok pikiran dari buku itu melalui bagian-bagian yang sudah ia beri tanda.

Sampai di sana, mulailah belajar menilai, dengan memberi penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan seperti berikut: Apakah yang dibicarakan dalam buku itu? Apakah maksud penulisnya? Sejauh manakah ia berhasil mencapai tujuannya? Apakah tulisannya mudah dipahami? Apakah bahasanya lancar dan enak untuk dibaca? Apakah masalah yang dibahas berharga bagi kelompok umum atau hanya kelompok khusus saja? Apakah cara penyajiannya menarik? Apakah penulisnya memang kompeten di bidang yang ditulisnya? Apakah tulisannya dibuat dengan riset yang memadai? Apakah gagasan yang ditulisnya baru? Semua pertanyaan itu coba Anda jawab, lalu Anda ramu dalam bentuk tulisan yang dikemas secara populer. Jika hal itu ia lakukan, berarti ia telah melakukan pengulasan, peninjauan atau pembuatan sebuah resensi buku, di mana ia menilai, menimbang dan mengevaluasi isi buku.

Sebagai sebuah resensi buku, minimal harus selesai melakukan pertimbangan atas buku yang ia baca, denganmenunjukkan alinea mana yang dianggap utama atau yang dianggap lemah. Penilaian yang diberikan berdasarkan pertimbangan yang rasional, bersifat obyektif dan bukannya berdasarkan oleh rasa suka dan tidak suka. Lalu menyajikannya sesuai dengan kepada kalangan siapa resensi buku itu ditujukan? Untuk siapa pula buku yang ia ulas itu ditujukan? Untuk kelompok kecil atau umum? Hingga di sini berarti ia sudah sampai pada peresensian.

Namun, tidak disalahkan jika ia juga memiliki kecenderungan, misalnya lebih besar pada penggambaran isi buku atau resensi deskriptif. Begitu juga jika kecenderungannya pada perbandingan dengan karya lain, istilahnya resensi komparatif. Lebih-lebih jika ia mampu memilih kecenderungan pada penilaian, atau resensi analisis.


Langkah peningkatan.

Untuk membuat resensi buku lebih apik, pada latihan berikutnya seseorang dapat mengusahakan resensinya lebih obyektif. Penilaian diusahakan lebih tertuju pada apa yang ada dalam buku, serta tidak begitu terpengaruh oleh penilaian dari orang lain. Lebih baik jika ia memiliki pernyataan yang orisinal, mampu membandingkannya dengan buku penulisnya yang sebelumnya jika memang ada.

Yang penting bagi penulis resensi adalah menunjukkan kemampuannya dalam menunjukkan keutamaan dan kelemahan dari buku yang diresensi. Bukannya mengutak-atik pribadi penulisnya. Begitu pula mengecam tanpa alasan dan memuji tanpa alasan adalah langkah yang keliru. Sebaiknya jika penulis resensi memuji atau mencela, maka harus dapat pula menyertakan alasan dan buktinya.


Kemampuan utama peresensi.

Mengenai penjelasan di atas, kini dapat digambarkan bahwa kemampuan dasar yang perlu dimiliki seorang penulis resensi buku di antaranya:
a. Memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku. Hal ini dapat diketahui melalui kata pengantar atau pendahuluan buku. Kemudian dicari apakah tujuannya itu direalisasikan pada seluruh bagian buku?
b. Menyadari sepenuhnya tujuan meresensi, karena hal itu sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat.
c. Memahami betul latar belakang pembaca yang akan menjadi sasarannya: selera, tingkat pendidikan, asal kalangan, dan sebagainya. Resensi yang diperuntukkan dimuat pada suatu media akan berbeda jika diperuntukkan dimuat di media lain yang berbeda segmen pembacanya.
d. Memahami karakteristik media massa cetak yang akan memuat resensi. Setiap media massa memiliki identitas termasuk visi dan “misi”. Dengan demikian, seorang penulis resensi akan mengetahui kebijakan dan resensi macam apa yang disukai redaksinya. Kesukaan tersebut dapat diketahui dari frekuensi jenis buku yang dimuat pada rubrik resensinya.


Teknik penyajian resensi buku.

Dalam penyajian karya resensi, penulis perlu memahami unsur-unsur pembangun resensi buku. Unsur-unsur tersebut merupakan penentu bagi sajian sebuah resensi.
a. Judul resensi. Judul resensi sebaiknya dibuat secara menarik serta benar-benar menjiwai seluruh isi tulisan atau inti tulisan. Ia tidak harus ditetapkan terlebih dulu, sebab ia dapat dibuat atau diperbaharui setelah seluruh tulisan resensi selesai dibuat.
b. Menyusun data buku. Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
• Judul buku (jika terjemahan, tulis judul aslinya)
• Penulis (jika terjemahan, baik juga ditulis penterjemahnya, editor atau penyuntingnya)
• Penerbit
• Tahun terbit, beserta cetakannya
• Tebal buku (berapa halaman)
• Harga buku (jika diperlukan)
c. Membuat lead (pembuka). Pembuka dapat dimulai dengan:
• Memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperolehnya
• Membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik yang ditulis oleh penulis buku tersebut maupun oleh penulis lain
• Memperkenalkan kekhasan penulisnya
• Memaparkan keunikan buku
• Merumuskan tema buku
• Mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku
• Mengungkapkan kesan terhadap buku
• Memperkenalkan penerbit
• Mengajukan pertanyaan
• Membuka dialog
Snaper (kata singkat mengejutkan)
d. Isi atau tubuh resensi. Isi atau tubuh resensi biasanya dapat dibangun oleh:
• Sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis
• Ulangan singkat buku dengan kutipan secukupnya
• Keunggulan buku
• Kelemahan buku
• Rumusan kerangka buku
• Tinjauan bahasa
• Tinjauan penulisan
e. Penutup resensi buku. Bagian penutup resensi, biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa. Untuk siapa yang dimaksud menjelaskan kalangan pembaca mana, serta alasan pengkategorian tersebut.

Dikutip dari BUKU: BERDAKWAH LEWAT TULISAN Penulis: AEP KUSNAWAN Penerbit: MUJAHID PRESS Semoga artikel diatas dapat bermanfaat bagi kita semua. amien.....

Mengapa Kita Harus Membaca Sebuah Buku ???

14.44


Berbagai macam alasan Mengapa orang harus membaca buku yang ditulis oleh orang lain. Diantara macam-macam alasan mereka untuk membaca buku adalah

Pertama, karena adanya kebutuhan dari diri kita untuk menggali ilmu pengetahuan atau informasi tentang berbagai hal yang kita butuhkan. Kita merasa mencari ilmu sebagai suatu kebutuhan karena memang bagi kita, umat Islam, mencari ilmu diwajibkan kepada kita. Rosulullah saw bersabda :”Mencari ilmu wajib atas setiap orang Islam baik laki-laki maupun perempuan”. Sementara itu mencari ilmu tidak harus melalui sekolah-sekolah formal maupun informal, akan tetapi juga dengan cara belajar sendiri dari buku-buku yang ditulis oleh para pengarang buku yang jumlahnya sangat banyak sekali. Cara belajar sendiri (otodidak) ini lebih efektif dengan membaca buku-buku yang sekarang ini jumlah dan ragam-macamnya sangat banyak sekali.

Hampir setiap sisi kehidupan kita, setiap sisi pola pikir kita, setiap sudut ruang gerak kita, setiap bagian dari gaya hidup kita, setiap sudut dari perasaan hati kita, setiap karakter manusia-manusia pilihan (para nabi, para wali, para ulama, para tokoh, bahkan para koruptor, para palacur, para durjana angkara murka), dan lain sebagainya semuanya ada bukunya. Bahkan dari masing-masing yang tersebut terakhir ditulis oleh belasan, puluhan atau bahkan ratusan penulis yang berbeda. Maka cara otodidak inipun tidak akan pernah sampai pada tepi pengetahuan dari samudera keilmuan yang maha luas. Apakah lagi yang hanya belajar melalui pendidikan formal yang kurikulumnya memang dibatasi sesuai perkembangan kemampuan anak didik, atau dibatasi berdasarkan fokus spesialisasi suatu kejuruan bidang ilmu yang dipelajarinya.

Kedua, karena sebuah buku itu umumnya ditulis oleh para penulis yang umumnya berusia antara 35 sampai dengan 50 tahun. Ambillah misalnya rata-rata usia penulis adalah 40 tahun, maka sebuah buku yang diterbitkan melukiskan sebagian dari 40 tahun pengalaman, pandangan, persepsi, imajinasi seorang pengarang buku. Kita misalkan lagi, dalam sehari kita menyelesaikan membaca 1 buku saja, maka kalau kita rutin membaca buku setiap hari, dalam 1 tahun kita telah membaca 365 buku yang merangkum 365 x 40 tahun pengalaman seorang penulis atau sama dengan 14.600 tahun pengalaman para penulis. Luar Biasa!.

Ketiga, Membaca buku adalah konsumsi bagi tubuh kita, tepatnya konsumsi bagi otak dan hati kita. Konsumsi bagi pikiran dan perasaan kita. Ini tidak mutlak, buktinya banyak orang yang otak dan hatinya tidak diberi makan dengan membaca buku dia masih bertahan hidup dan tetap waras.Akan tetapi bagi sebagian orang, membaca buku ini merupakan konsumsi primer yang tidak boleh tidak harus dipenuhi sebab kalau tidak ia akan mati. Ya!, paling tidak mati akal dan perasaannya, mati pikiran dan buta mata hatinya.

Keempat, Bacalah! (Iqra’!), demikian bunyi ayat pertama kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan untuk umat Muhammad saw dan manusia di muka bumi sesudahnya, 1440 tahun yang lalu. Membaca disini mempunyai pengertian yang luas, yang tidak hanya membaca buku bacaan tetapi membaca apa saja yang ada di depan mata kita, yang ada di sekitar diri kita, yang ada pada penciptaan diri kita, yang tak terlihat sekalipun oleh mata kita, dan semuanya.

Bacalah, Bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu yang telah menciptakan, yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Maha Mulia, yang mengajarkan kepada manusia dengan perantaraan qalam (tulisan; al-Qur’an), mengajarkan kepada manusia apa saja yang belum diketahuinya.

Dari bagian pertama Surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang merupakan wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Muhammad saw- kita langsung bisa menangkap maknanya, meskipun sebatas kemampuan persepsi kita. Makna yang luas dan mendalam, makna perintah yang tidak hanya lahiriah tetapi juga ajaran aqidah dan tauhid yang mengimani sesuatu yang ghaib. Makna membaca objek yang bukan sesuatu yang wujud dan mudah saja, tetapi juga objek yang perlu kajian analitis dan mendalam (proses kejadian manusia dari segumpal darah). Ketika kita tidak mampu secara langsung melakukan observasi kepada objek dimana kita diperintahkan untuk membacanya, maka buku-buku yang telah ditulis oleh para penulis yang sekaligus para ahlinya adalah solusinya. Untuk itulah kita perlu membaca buku-buku yang banyak macamnya, yang mendalam isinya, yang bermacam-macam kajiannya, dan lain sebagainya.

Kelima, Bacalah maka kamu akan menjadi pintar. Jelas, walaupun sekali lagi tidak mutlak, orang yang tidak pernah membaca buku ia akan menjadi bodoh, gak tau apa-apa, pengetahuannya cupet, ilmunya dangkal, prilakunya rendahan, hidupnya gak mutu. Eh, ini gak ngumpat atau mengejek, cuma saja jangan ditiru selama anda masih waras.

Sekarang alasan anda membaca buku apa ????

Semoga artikel diatas dapat bermanfaat bagi kita semua. amien.....

LIMA LANGKAH MEMBACA BUKU YANG EFEKTIF DAN EFISIEN

14.38


Jika kita sedang melakukan desk study (study literatur) banyak buku (references) yang harus dibaca untuk mencari topik yang relevant dengan study yang sedang dilakukan. Sesekali kita juga tertarik untuk melakukan telaahan kepada buku-buku baru yang memuat teori-teori baru, dan mencoba melakukan perbandingan-perbandingan. Jika kita mendapat tugas mendadak dari atasan, dosen, instruktur, dan sebagainya untuk mengkaji, menelaah teks book, laporan hasil study, proceeding dan sebagainya yang cukup tebal, dan sekaligus diminta untuk membuat resume (summary), sementara, waktu yang tersedia sangat terbatas.

Bagi peneliti atau bagi mereka yang sedang membuat tesis, skripsi, dan sebagainya, kajian/telaahan buku sangat penting untuk mendukung pendebatan, model, metodology study, merumuskan asumsi, membuktikan hipotesa, menganalisa dan sebagainya. Sedangkan bagi pengajar, kajian/telaahan buku sangat bermanfaat dalam memperluas wawasan, memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, mengikuti dinamika perkembangan, melihat hubungan-hubungan antara teori-teori kenyataan di lapangan dan sebagainya, sehingga materi yang diajarkannya tidak kering, selalu menarik dan merangsang mahasiswa untuk menggali lebih mendalam (Quriousity).

Bagaimana kita dapat belajar (membaca-buku) dengan cepat tetapi efektif dan efisien? Berikut disampaikan 5 (lima) langkah yang ditawarkan : General Orientation, Alternative Choice, Preparation, Action, Memorial File.


I. General Orientation

  • Kenali penulisnya : Bibligraphy, disiplin ilmu, kepiawaiannya, latar belakang penulisan, pactical experiens, karya ilmiah lainnya. Bandingkan dengan penulisannya yang setarap dan dalam disiplin ilmu yang sama (luar dan dalam negeri).
  • Baca daftar isi, kecuali organisasi materi/hubungan antar bab. Cari bab-bab/sub-sub bab yang erat kaitannya dengan topik/permasalahan/study yang sedang anda tekuni.
  • Baca kata pengantar dan pendahuluan (latar belakang, tujuan, ruang lingkup, pendebetan, hipotesa awal, dan sebagainya).
  • Lihat tahun penerbitan, validasi data.informasi, aktualita, fenomena, relevansi.

II. Alternative choice

Bandingkan hasil observasi di atas dengan tingkat kebutuhan/kepentingan anda saat itu. Berdasarkan tingkat kemanfaatan “buku” dapat dikategorikan sebagai berikut :

  • Key book/materials : 80-100% sangat terkait langsung/relevan dengan study/permasalahan yang sedang anda tekuni sehingga harus dipelajari dengan penuh keseriusan.
  • Potentional book/materials : 60-80% terkait (langsung, tak langsung), cukup relevan dengan permasalahan/study yang anda tekuni tapi mempunyai potensi dalam mendukung/menunjang study anda sehingga ditempatkan pada prioritas kedua.
  • Ocassional book/materials : 40-60% terkait, prioritas terakhir. Pada saat itu kurang relevan, tetapi suatu saat dapat naik statusnya menjadi key book/materials apabila perubahan/fenomina yang terjadi memperkuat asumsi yang dipakai sehingga menjadi iklim yang condusif/favourable bagi berlakunya teori, pendebatan, model yang ada dalam buku tersebut.
  • Unrelevant books/materials : 40% dianggap tidak relevan sebaiknya jangan dibaca dulu mungkin dapat digunakan untuk study yang lain.

(Dengan catatan : interval presentase tersebut terserah justifikasi anda)


III. Preparation

Untuk kegiatan pengkajian/telaahan buku-buku yang memerlukan keseriusan perlu dipersiapkan :

  • Physis/biologis : Pastikan kondisi fisik anda dalam keadaan prima/fit, otak segar, penglihatan normal, sirkulasi darah, sistem pemapasan, sistem pencemaran, semuanya dalam keadaan normal, baju longgar.
  • Psychis : Pastikan kondisi mental, emosional, dan pikiran anda dalam keadaan normal tanpa tekanan, bebaskan dari gangguan persoalan rumah tangga/keluarga, masalah ekonomi, masalah seks dan sebagainya.
  • Environment : Ciptakan suasana yang cocok bagi anda-tempat belajar, meja-kursi, lampu belajar, sirkulasi udara, keharuman. Bunga, musik, makanan kecil, minuman, jam duduk, akses ke kamar kecil, kertas, alat-alat tulis dll.
  • Timing : Carilah waktu yang tepat yang diperkirakan tidak akan terganggu oleh tamu, anak-anak, isteri/suami, penagihan rekening, dll

IV. Action

Teknik membaca yang baik dan benar :

  • Siapkan alat tulis, jam dan keperluan lainnya pada posisi yang mudah dijangkau.
  • Letakkan buku di atas meja : lampu di sebelah kiri buku (karena anda membaca tulisan dari kiri ke kanan) gunakan cahaya 25-60 watt dan jangan menggunakan neon (cahaya diffuse).
  • Duduklah tegak di atas kursi dengan ketinggian optimum (posisi buku sejajar dengan diafragma antara rongga dada dan perut).
  • Kepala diusahakan tegak lurus-jarak pandang antara mata dengan tulisan ± 30 cm.
  • Mata bergerak dari kiri ke kanan sesuai dengan urutan huruf/kalimat yang sedang dibaca (jadi bukan kepala yang bergerak).
  • Sesekali berdiri menghirup udara yang segar dan memberikan kesempatan mata untuk melihat yang jauh dan hijau/segar.
  • Sebelum buku ditutup, jangan lupa selipkan batas membaca kemudian simpanlah pada tempat semula

Metoda membaca yang efektif dan efisien

  • Keberhasilan membaca bukan karena lamanya melainkan karena keefektifan dan keefisienannya. Lebih baik sebentar tapi sering dan kontinyu, daripada lama tetapi hanya satu kali.
  • Kebiasaan sering membaca ini dapat ditingkatkan frekwensinya, misalnya dari dua kali sehari menjadi tiga kali sehari dan seterusnya.

Trik-trik berikut ini dapat membantu anda agar dapat membaca buku dalam waktu singkat tetapi efektif dan efisien.


Quick reading :

  • Pahami
  • Kuasai
  • Pilah
  • Baca
  • Kaji
  • Buatlah Catatan
  • Memorial file
  • Selesai
(Dikutip oleh H. Sjahrannudin, SE. dari tulisan Maman Djumitri)

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua. amien.....

Tip dan Trik Menulis Buku

13.03


Mungkin ini bukan Tip ataupun Trik tentang menulis buku, tapi lebih tepatnya strategi menulis buku kali yach... Lalu kenapa kok judul postingannya Tip dan Trik Menulis Buku ??? seperti kata pepatah apalah arti sebuah nama, begitu juga dengan apalah arti sebuah judul hehehe tapi judul sangat berpengaruh lho...(kok malah gak fokus ke pembahasan yach ??)



Oke..babahe saleho akan memberikan sedikit tip dan trik bagaimana menulis sebuah buku. Ini merupakan pengalaman babahe saleho sendiri waktu menulis buku. Apa sech tip dan triknya ??? (kelamaan amat sech ??? ehhehee sabar..sabar... hehehe)

  • Pertama-tama anda harus menulis sesuai dengan kata hati dulu dalam artian jangan pernah ada paksaan, karena apa ??? karena kalau kita menulis dengan paksaan ataupun tekanan hasil yang akan kita dapat dalam menulis tidak akan maksimal sehingga maka buku yang ditulisnya dapat dipastikan kualitasnya diragukan. Baik itu kualitas cara penulisannya maupun isinya karena tidak dilandasi spirit, visi, misi dan tanggung-jawab moral
  • Yang kedua adalah tentukan tema yang akan anda jadikan sebuah buku kemudian carilah beberapa pertanyaan lalu jawablah pertanyaan tersebut secara jujur. Maka jawaban-jawaban tersebut akan menentukan buku yang akan kita tulis. Seperti pada prinsip H1 + W5 (How, What, Why, When, Where, Who). Sebagai contoh pertanyaan adalah Mengapa kita memakai tema tersebut ?, Untuk Siapa Buku yang akan kita tulis nantinya ?, Mau di kirim kemana buku tersebut setelah selesai sesuai dengan jenis penerbit ?, dan seterusnya.
  • Buatlah rumusan atau draft naskah terlebih dahulu sehingga akan memudahkan kita dalam merumuskan ide-ide kita. Kadang ada juga sech seorang penulis langsung menuliskannya langsung tanpa perlu menulis draft (konsepnya) dan itu 1000:1 yang bisa seperti itu. hehehehe
  • Jangan hiraukan kesalahan dalam penulisan (seperti EYD), pokoknya tulis aja dahulu sehingga tidak akan menyita waktu kita dan tidak akan kehilangan ide cuma gara-gara mebetulin penulisan yang tidak sesuai EYD, karena EYD itu bisa di atur belakangan waktu naskah selesai
  • Luangkan waktu sebisa mungkin untuk menulis walaupun cuma 1 jam atau 2 jam (lumayan bisa dapet 10 atau 5 lembar perhari, sehingga dalam sebulan bisa dapet 150-an lembar).
  • Istirahatlah bila ide sudah mentok karena kalau dipaksakan bisa kacau balau..hehehe (pengalaman pribadi soalnya), bisa-bisa awut-awutan nanti naskahnya.
  • Jangan lupa banyak-banyak membaca buku sebagai referensi
Nah mungkin cuma itu yang bisa babahe berikan pada teman-teman, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Amien....

Membaca Buku itu Sangat Penting !!!

02 Juli 2008 17.48


Assalaamu'alaikum wr.wb

Dapat kita ketahui bersama bahwa buku mempunyai multi manfaat bagi kehidupan manusia untuk menuju suatu peradaban yang lebih baik, akan tetapi meskipun besarnya manfaat dari buku tersebut, jika masyarakatnya kurang memiliki kesadaran tentang pentingnya membaca buku, terciptanya suatu peradaban yang lebih baik menjadi suatu keniscayaan. Disamping faktor lain yang menjadi penyebab kurangnya minat baca, di antaranya budaya menonton lebih mendominasi dari pada budaya baca, mahalnya harga kertas yang berimbas harga-harga buku menjadi mahal, dan kurangnya sosialisasi dari pemerintah tentang pentingnya membaca buku.

Berdasarkan hasil survei lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education Society and Cultural Organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia. Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari negara-negara maju yang memiliki tradisi membaca cukup tinggi. Jepang, Amerika, Jerman, dan negara maju lainnya yang masyarakatnya punya tradisi membaca buku, begitu pesat peradabannya. Masyarakat negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka kemana pun mereka pergi, ketika antre membeli karcis, menunggu kereta, di dalam bus, mereka manfaatkan waktu dengan kegiatan produktif yakni membaca buku. Di Indonesia kebiasaan ini belum tampak.

Menumbuhkan kebiasaan membaca harus dimulai dari keluarga. Orang tua berperan penting dalam menumbuhkan kegemaran membaca buku anak-anaknya. Untuk menjadikan anak memiliki kegemaran membaca, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pepatah Inggris mengatakan we first make our habits, then our habits make us. Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Artinya, bila orang tua ingin anaknya mempunyai kegemaran membaca buku, maka membaca buku perlu dibiasakan sejak kecil. Disamping perlunya keteladanan dari orang tua sendiri.

Saat ini, biaya pendidikan kian membumbung. Hanya kalangan tertentu saja yang dapat menikmati pendidikan formal sampai jenjang perguruan tinggi. Bagi mereka yang belum beruntung dari aspek ekonomi, sehingga tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, mestinya tidak berkecil hati. Membaca buku menjadi alternatif untuk bisa menjadi terpelajar layaknya orang yang mengikuti pendidikan formal.


Sumber : Diambil dari berbagai sumber


Wassalam wr.wb

Sudah Banyak Membaca Buku Tapi Sia-sia Belaka

26 Juni 2008 10.02


Assalaamu'alaikum wr.wb

Kita semua mungkin pernah mengalami bahkan sering pada saat membaca sebuah buku namun tidak memperoleh sedikitpun manfaat dari buku tersebut. Bukan lantaran buku tersebut jelek atau tidak bermutu ataupun nama penulisnya yang tidak berkompeten, namun semua itu sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Mungkin karena kita tidak serius dalam membaca sebuah buku (seperti artikel yang telah saya buat yang berjudul Langkah Maju menuju perdaban yang tinggi dengan membaca).

Faktor lain pada diri kita adalah Pertama, kita terlalu rakus membaca tanpa memberikan kesempatan pada otak untuk menyerap dan mencerna isi dari buku tersebut. Kita disibukkan dengan membaca dan seolah-olah diburu waktu (deadline) yang harus selesai secepatnya yang pada akhirnya kita membaca ibaratnya cuma numpang lewat tanpa mencatat point-point penting yang seharusnya di serap dan dicerna sehingga menumbuhkan ikatan tersendiri dalam buku tersebut.

Kedua, Setelah sekian banyak dari membaca buku, kita tidak mau mempraktekkan apa yang ada pada buku tersebut. Ini sama saja dengan bohong !!!! tanpa ada Action kita tidak bisa menguasai dari buku yang kita baca. Sebagai contoh... Anda sedang membaca buku tentang tutorial Adobe photoshop, namun setelah membaca buku tersebut, anda tidak mempraktekkan, kapan anda akan bisa atau dapat menyerap dari buku tutorial tersebut ??? sia-sia Bukan ????.

Ketiga
, Banyak diantara kita membaca buku yang tidak jelas, maksutnya membaca buku yang tidak ada sangkut pautnya dengan hobi atau keahlian kita, dan hal ini-pun juga akan terasa sia-sia, meskipun tidak ada salahnya kita membaca buku yang diluar dari hobi atau keahlian. Hal ini akan menyia-nyiakan waktu, kan lebih baik membaca buku yang ada hubungannya dengan apa yang ada sangkut pautnya dengan kita, sehingga kita bisa membaca dengan serius dan bermanfaat.

Nah..itulah sekilas pendapat pribadi dari saya, bagi teman-teman yang ingin menambahkan silahkan.... Semoga artikel diatas dapat bermanfaat bagi kita semua. amien.....


Wassalam wr.wb

Jadikan Buku sebagai Kawan Anda !!!!

25 Juni 2008 06.36


Assalaamu'alaikum wr.wb


Apakah anda ingin membuka tirai atau jendela dunia ???? maka bacalah buku !!!! dengan membaca buku jendela dunia akan terbuka lebar di hadapan kita dan akan membawa dunia ini dekat dengan kita. Ada pepatah mengatakan "Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku adalah jendela dunia.". Pepatah rasanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah yang tak pernah usang oleh waktu. Dan ini saya yakini dengan sepenuh hati. Tentu saja, karena buku harus menjadi sahabat dalam hidup kita. Buku juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Dengan buku kita bisa melihat sisi lain dari dunia kita ini yang ternyata sangat bermacam-macam bentuknya. Membuat kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Mengapa kita harus berkawan atau mencintai buku ??? yang pasti ada suatu alasan yang mendasari seseorang mencintai sebuah buku. Diantara alasan mengapa saya mencintai buku dikarenakan, Pertama, Buku selalu mengeluarkan hal-hal yang baru atau istilahnya up to date. Kedua, Buku kaya akan imajinasi-imajinasi.
Dengan Membayangkan apa yang tertulis di buku membuat kita seperti membangun imajinasi versi pikiran kita sendiri. Mengajak diri kita untuk berkreasi dengan menenggelamkan diri dalam alur atau setting yang terdapat dalam buku. Itu menjadikan kita belajar untuk mengerti dunia lain yang sebelumnya tak pernah terpikir oleh kita. Ketiga, Dengan membaca buku kita akan tergerak untuk menuliskan kembali hal-hal yang berhubungan dengan buku tersebut bahkan akan menyempurnakan buku yang telah kita baca tersebut.

Mari kita bersahabat dan mencintai buku.
Rasakan kehadiran mereka sebagai jendela untuk kita melihat masa depan di hadapan. Jadikan keberadaan mereka sebagai jembatan untuk kita berusaha menjadi makhluk Allah yang mencintai ilmu. Dibawah ini akan saya kutipkan beberapa nasehat dari para ulama dan para sahabat tentang keutamaan sebuah Ilmu sehingga akan terdorong hati kita dalam mencari Ilmu.

Buya Hamka, seorang penulis dan ulama besar Indonesia pernah berkata kepada muridnya :

Cobalah tulis dari hatimu dahulu. Tangkap ide yang berkelebat agar tak segera lenyap. Alirkan apa saja emosi dan pikiran yang ada di benak dan hatimu. Biarkan ia mengalir sebebas-bebasnya hingga mencapai keutuhan dan garis besar tulisan. Setelah itu barulah kumpulkan serta siapkan data-data pendukung dalam tulisanmu agar ia lebih berbobot dan argumentatif.


Imam Ali berkata : “Tubuh kita ini selalu melewati enam keadaan : sehat, sakit, mati, hidup tidur, dan bangun. Hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan matinya adalah akibat ketiadaan ilmu. Sehatnya hati adalah berkata keyakinan, sakitnya adalah keraguan. Tidurnya hati adalah kelalaian, dan bangunnya hati berasal dari dzikir yang dilakukan.”

Dari Mua’adz bin Jabal r.a, ia berkata : “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya adalah kebaikan, mencarinya adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, mendalaminya adalah jihad, mengerjakannya kepada orang yang belum mengerti adalah sedekah, mengingatkannya kepada orang yang sudah mengerti adalah taqqarub. Ilmu adalah teman di waktu sepi, kawan dalam pengasingan, penunjuk jalan kesenangan, penolong dalam kesulitan, hiasan di tengah-tengah kawan, dan senjata dalam menghadapi musuh. Ilmu dapat menghidupkan hati dari kebodohan, pelita dari kegelapan, kekuatan dari segala kelemahan, sarana untuk mencapai derajat orang-orang yang baik sewaktu hidup di dunia maupun di akhirat. Ilmu merupakan pemimpin dan amal adalah pengikutnya.


Semoga hati kita tergerak untuk dapat mencintai Ilmu dengan cara membaca dan bersahabat dengan buku. Semoga bermanfaat bagi kita semua. amien.....


Wassalam wr.wb

Langkah Maju Menuju Peradaban yang Tinggi dengan Budaya membaca

23 Juni 2008 18.42


Assalaamu'alaikum wr.wb

Tidak dapat disangkal lagi bahwa Ilmu pengetahuan merupakan simbol dari terbentuknya suatu peradaban yang tinggi dan maju, karena dengan ilmu pengetahuan tersebut akan tercipta suatu penemuan-penemuan terkini yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh semua umat manusia. Ilmu pengetahuan mempunyai peranan tertinggi dalam mengubah suatu peradaban pada suatu kaum atau umat.

Terlepas dari itu semua, sudah tentu ilmu pengetahuan tersebut diperoleh atau didapat dari kegiatan membaca kemudian di catat atau ditulis. Dengan membaca maka ilmu pengetahuan akan muncul dan berkembang. Tanpa membaca mustahil akan tercipta suatu peradaban yang maju dan ber-keilmuan. Dalam suatu tatanan Negara, apabila mempunyai suatu peradaban yang tinggi maka dialah yang akan menang. Seorang tokoh Yahudi berkata, "Kami tak akan pernah takut kepada umat Islam, karena mereka tidak memiliki budaya membaca.". Sangat jelas sekali kutipan dari seorang tokoh Yahudi tersebut, bahwa suatu bangsa atau kaum apabila mempunyai suatu peradaban yang tinggi maka akan diperhitungkan atau boleh dikatakan akan takut, dan peradaban yang tinggi tersebut tentunya diperoleh dari membaca.

Mari kita tengok kembali ayat yang pertama kali diturunkan oleh Alloh SWT kepada Rosul SAW, akan kita dapati bahwa ayat yang turun tersebut adalah perintah untuk membaca !!!! Iqra' (bacalah), ayat ini tidak hanya disebutkan satu kali. Dalam satu waktu dan satu kali penurunan ayat pertama, perintah “bacalah!” diulang dua kali, dan itupun terdapat dalam satu surat, yaitu surat al-'Alaq ayat pertama dan ketiga.

Perintah yang tegas itu mampu mengubah budaya Arab Jahiliah yang sebelumnya terbelakang menjadi bangsa yang jaya, mengalahkan bangsa-bangsa lain yang telah memiliki peradaban gemilang terlebih dahulu. Sebelumnya, bangsa Arab bukanlah apa-apa; tak ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari mereka, kecuali mungkin keahlian untuk menggubah puisi. Mereka tidak sebagaimana bangsa India yang telah memiliki tradisi membukukan dan mengoleksi kitab-kitab turรขts mereka, tidak sebagaimana Yunani dengan filsafat dan mantiknya, tidak juga sebagaimana bangsa Persia dengan budaya ceramah dan orasi lisannya. (Ahmad Amin dalam Fajrul-Islรขm).

Ironisnya, anjuran tersebut tidak pernah dipahami dengan benar bahkan tidak digubris oleh Umat Islam Sendiri dan tampaknya kini telah diterapkan oleh pemeluk agama-agama di luar Islam. Sebagaimana penganut Yahudi, yang menurut prosentase dalam suatu penelitian, tingkat membacanya mendapatkan poin terbanyak daripada agama lainnya. Jika diurut, dalam hal ini Eropalah yang saat ini berkembang pesat. Kemudian ada agama Shinto, agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Jepang dan disusul oleh Budha, yang kebanyakan dianut oleh penduduk China. betapa luar biasanya mereka membawa penduduknya menuju peradaban gemilang, dan dikagumi oleh bangsa-bangsa yang lain. Selain itu mereka juga menjadi bangsa yang berkembang pesat, terutama pada negera Jepang yang terkenal dengan kemajuan teknologinya.

Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa mereka bisa berkembang dan maju sepesat itu ???? Sudah sangat jelas sekali karena mereka adalah manusia-manusia pembaca !!! Mereka mempunyai waktu khusus untuk membaca buku yang mereka anggap serius atau penting di sela kesibukan mereka dalam pekerjaan. Mereka tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk membaca guna menambah wacana keilmuan mereka. Kita bisa melihat kebiasaan orang Jepang yang sangat jarang meninggalkan sebuah bacaan, sampai-sampai saat dalam perjalanan di dalam sebuah bus atau kereta, mereka akan terlihat, satu dengan yang lainnya, sama-sama membisu lantaran mereka sedang asyik membaca sebuah buku ataupun majalah tanpa berbincang-bincang.

Lalu bagaimana dengan Negeri Indonesia ini ??? apabila kita melihat realita yang ada, bahwa budaya membaca di negara ini jauh dari harapan. Jarang sekali kita temui orang yang membaca buku kecuali di toko-toko buku ataupun perpustakan, dan juga ada yang gemar membaca buku akan tetapi tidak membawa dampak positif bagi kemajuan peradaban bahkan akan berdampak negatif. Sebagai contoh para remaja lebih suka membaca buku yang berbau pornografi atau lebih banyak membaca buku yang bernuansa hiburan semata yang mana tidak akan membawa dampak yang baik bagi majunya suatu peradaban. Mereka hanya menyia-nyiakan waktu saja dan tidak peduli dengan tujuan utama membaca, yakni sebagai wahana penambah wawasan dan pengetahuan.

Ada juga yang gemar atau hobi membaca, namun tidak mengerti apa yang telah dibacanya. Ada pula yang berjam-jam menghabiskan waktu dengan membaca, namun tidak memiliki tujuan dari apa yang dibacanya. Semua ini hanya akan menyia-nyiakan umur saja. Maka, langkah yang tepat agar apa yang dibacanya menjadi sebuah pengetahuan adalah dengan menyusun target dan manfaat yang akan dibacanya dan berusaha semaksimal mungkin membaca bacaannya dengan singkat namun dapat diserap. Demi tercapainya budaya membaca pada masyarakat sebagai langkah awal menuju peradaban yang bermartabat, tak heran bila saat ini bermunculan buku-buku bacaan yang menuntut kebiasaan membaca agar dimulai sejak dini. Bahkan, ada pula yang menyatakan bahwa membaca itu tidak harus dengan membaca sebuah tulisan. Menurutnya, membaca memiliki arti yang luas.

Kemajuan suatu bangsa tidak timbul dengan sendiri, melainkan dengan usaha yang tekun dan sungguh-sungguh untuk meraih kemajuan itu. Maka dari itu mari kita menyusun langkah untuk menuju budaya membaca yang serius, sangatlah ironis bila kita masih menganggap budaya membaca hanya sekedar hobi, atau untuk mengisi waktu yang kosong atau mengategorikan membaca hanya sebagai kegiatan orang-orang tertentu (kelompok intelektual). Mari kita menyongsong kegemilangan peradaban Islam masa depan dengan membaca.
Hanya dengan membaca yang serius akan tercipta suatu Ilmu pengetahuan, sehingga dengan ilmu pengetahuan tersebut akan tercipta suatu perdaban yang tinggi dan maju dan akan disegani bahkan di takuti oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu membaca akan mengangkat harkat, martabat dan derajat suatu kaum karena keilmuannya.


Wassalam wr.wb

Cara menumbuhkan Minat Gemar Membaca Buku

07.52


Assalaamu'alaikum wr.wb




Membaca merupakan aktivitas yang mudah sebenarnya, namun begitu sulit untuk meluangkan waktu untuk melaksanakannya. Apalagi, di era globalisasi ini, yang dipenuhi oleh teknologi-teknologi canggih, sehingga membaca tidak lagi menjadi sebuah rutinitas hidup melainkan kerjaan sampingan saja. mungkin itu pulalah salah satu penyebab rendahnya sumber daya manusia Indonesia. Ketidakgemaran membaca membuat kita terasa amat kecil, dunia terasa sempit dikarenakan sedikitnya informasi yang kita peroleh.

Padahal, informasi dan ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu semakin lama semakin bertambah pesat. Bagaimana dengan kita manusia Indonesia? Akankah kita akan tertinggal jauh dari perkembangan zaman? Kita sebagai manusia, yang diberi akal yang lebih baik dibanding makhluk lain seharusnya mampu menelaah lebih dalam tentang ilmu pengetahuan yang tak pernah habis walaupun kita menggalinya. Dan membaca adalah salah satu sarana untuk mencapai itu semua. Sekarang, tinggal bagaimana cara kita untuk menumbuhkan sikap gemar membaca dimanapun kita berada.


Nah, berikut ini beberapa tips atau boleh dikata kiat-kiat yang diberikan oleh kang Hernowo dalam buku Best Seller-nya “Mengingat Makna”.


Langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan mengubah paradigma (cara pandang) kita dalam memandang buku. Menurut beliau Buku sama saja dengan makanan yaitu makanan untuk ruhani kita. Ini sangat penting dalam rangka memasuki dunia buku. Bayangkan apabila jasmani kita tidak diberi makanan-makanan berigizi. Apa yang akan terjadi? Tubuh kita akan lemas, otomatis akan mempengaruhi aktivitas kita sehari-hari. Begitu pula dengan ruhani kita. Buku adalah salah satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi, lewat paradigma baru membaca buku dengan menganggap buku sebagai makanan kesukaan kita, sehingga kita dapat memperlakukan buku layaknya makanan tersebut. Maka langkah awal telah selesai. Dilanjutkan dengan mengenali atau melakukan pengenalan dengan buku yang akan kita baca. Bisa dengan mengetahui pengarangnya dahulu atau intisari dari bacaan tersebut. Mintalah kepada seseorang untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik yang ada pada buku itu.


Langkah terakhir, dapat dilakukan dengan membaca sambil makan-makanan ringan atau dalam istilah “ngemil” ini dimaksudkan supaya pikiran tidak terlalu menegang dan tetap rileks dengan isi bacaan.


Apabila kita sudah mengubah paradigma membaca buku seperti di atas dan telah memahami manfaat membaca buku, cobalah membaca buku-buku yang memiliki bobot lebih tinggi. Buku-buku ilmiah adalah contoh paling mudah.


Seorang intelektuali bernama dave Meier dalam bukunya yang berjudul, The Accelerated Learning Handbook, mengemukakan beberapa cara mudah dalam membaca buku. Meier menamai tips-tips ini “Metode Belajar Gaya SAVI


Pertama
, membaca secara somatis (bersifat refe/tubuh). Ini berarti bahwa, pada saat kita membaca, mencoba untuk tidak hanya duduk boleh dengan berdiri atau berjalan-jalan saat membaca. Gerakkan tangan, kaki dan kepala, setelah itu baca kembali.

Kedua
, membaca secara auditori (bunyi), cobalah sesekali membaca dengan menyuarakan apa yang kita baca, lebih-lebih apabila ada istilah yang sulit kita pahami. Karena dengan demikian itu, telinga kita akan membantu mencernanya.

Ketiga
, membaca secara visual (gambar). Ini berkaitan dengan kemampuan kita yang bernama imajinasi atau kekuatan membayangkan. Dengan menggambarkan atau membayangkan sebuah konsep, Insya Allah juga akan mempercepat pemahaman.

Keempat
, membaca secara intelektual (merenungkan). Ini juga berkaitan dengan kemampuan luar biasa yang kita miliki, kita perlu jeda atau berhenti sejenak setelah membaca, sehingga kita akan dengan mudah menuangkan atau menceritakan kembali apa-apa yang kita baca.

Referensi : Mas Hernowo dan ahsinmuslim


Semoga artikel diatas dapat bermanfaat bagi kita semua. Amien.....


Wassalam wr.wb

Tip dan Trik Meresensi Sebuah Buku

20 Juni 2008 06.51


Assalaamu'alaikum wr.wb

Meresensi buku sebenarnya gampang-gampang susah, sebenarnya kalau kita mau berlatih terus, saya yakin anda akan mampu meresensi sebuah buku. Namun terlepas dari itu semua, pasti ada tip untuk meresensi sebuah buku sehingga anda piawai dalam membuat resensi buku.

Apa saja sech tips untuk meresensi sebuah buku itu ??? baiklah...ini saya kutipkan dari sebuah millis, semoga bisa membuka wacana kita tentang dunia resensi buku

  • Tulisan resensi yang menggambarkan sinopsis harus sesuai dengan isi buku. Banyak peserta yang terdaftar dalam kompetisi ini ternyata kurang memahami isi buku sehingga sinopsis mereka berbeda dengan isi buku.
  • Ketajaman analisa. Setelah memahami isi buku, kamu harus bisa menilai apakah isi buku bermanfaat atau tidak ? Jika memang bagus, beri penjelasan di mana letak sisi bagus itu. Begitu pun sebaliknya. Di samping itu, kamu harus pula menguasai pengetahuan lain sebagai bahan pembanding isi buku yang hendak kamu kritisi itu, termasuk di dalamnya menyikapi masalah yang ditampilkan buku tersebut. Asal kamu tahu, prosentase terbesar kriteria penilaian ada pada ketajaman analisa. Di sini, kamu harus bisa mengaitkan masalah lain yang ada dengan masalah yang diangkat buku itu. Dari sini, gagasan kamu dan isi buku mengenai masalah yang sama, bisa bertemu. Tentu saja kamu bisa mengungkapkan ketidaksetujuan atas gagasan penulis buku yang bersangkutan. Pada saat yang sama, kamu juga harus menawarkan argumen untuk mendukung pendapatmu.
  • Gunakan bahasa yang terstruktur, lugas, dan jelas sehingga memudahkan pembaca memahami maksud kamu. Melalui bahasa semacam itu, kamu bisa menulis ulang isi atau materi yang terkandung dalam buku, kemudian mengkritisi isinya jika ada yang dinilai kurang tepat. Selain itu, penulis resensi juga harus memiliki kemampuan memahami isi buku secara benar.
  • Terakhir, hindari penggunaan kalimat yang panjang dan bertele-tele. Kalimat panjang bisa mengaburkan pesan yang akan disampaikan. Jangan lupa, pilih kata-kata yang tepat untuk merangkai tulisan resensimu. Dengan cara ini, niscaya pembaca akan gampang memahami maksud kamu.
Bagaimana ???? tidak sulit kan ??? oke dech...semoga tips diatas bisa bermanfaat bagi kita semua. Selamat mencoba yach...


Wassalam wr.wb

Mengikat Makna (Mengubah Paradigma Membaca dan Menulis secara Radikal)

06.32


Assalaamu'alaikum wr.wb

Menulis memang tidak pernah lepas kaitannya dengan membaca, apabila kita mau menulis buku sudah tentu kita perlu membaca suatu buku. Sekarang yang menjadi pertanyaanya adalah bagaimana kita mampu "Mengikat Makna" dari menulis dan membaca tersebut ????



Ada beberapa tip dan trik dari Mas Hernowo tentang bagaimana kita bisa efektif dalam membaca dan menulis dalam bukunya yang berjudul "Mengikat Makna" yang diantaranya adalah ssebagai berikut :


7 KIAT MEMBIASAKAN DIRI MEMBACA EFEKTIF

1. Membaca = Memahami

Kiat pertama ini diangkat dari "firman imperatif' dalam Surah Pertama Al-Quran, Al-`Alaq, yang berbunyi "iqra"'. Menurut pakar tafsir Al-Quran, Dr. M. Quraish Shihab, kata "iqra"' ini terambil dari kata "qara'a" yang berarti "menghimpun". Merujuk ke ayat pertama surah tersebut, membaca sama dengan "meng¬himpun makna". Dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara jelas baca (membaca) itu diartikan juga sebagai aktivitas "memahami".

2. Membaca = Memaknai

Membaca dalam arti memahami akan menjadi sangat efektif apabila dalam proses pemahaman itu sang pembaca menyertakan keinginannya atau mencantolkan "apa saja yang dimauinya" ke dalam teks-teks yang dibacanya. Misalnya, "Apa sih makna (manfaat) Surah Al-Alaq bagi saya?" Atau, bagaimana ya keadaan Nabi Muhammad Saw. saat menerima kelima ayat pertama Surah Al-`Alaq? Proses memaknai akan memunculkan dorongan dari dalam atau antusiasme yang menggila untuk terus mau membaca.

3. Membaca = Memperluas wawasan dan memperkaya perspektif

Kiat ketiga ini merupakan salah satu contoh memaknai dalam tingkat yang sangat "umum". Namun, sifat keumuman ini menjadi penting karena sifat kepastiannya (yaitu bila dalam proses membaca itu seseorang mampu menempuh secara benar dua kiat sebe¬lumnya). Bisa jadi, seseorang yang kurang suka membaca buku, agak kesulitan untuk memandang suatu persoalan secara luas dan meninjaunya dari pelbagai sudut pandang.

4. Kecintaan Membaca = Kecintaan belajar

Kiat keempat ini merupakan pemupukan atau pembiasaan aktivitas membaca yang memenuhi syarat ketiga kiat sebelum ini. Bagi para pembaca tekun, tumpukan pemahaman, pemaknaan, dan kekayaan ilmu akan membuatnya mencintai aktivitas mulia ini. Ada pepatah Jawa yang menarik, yaitu witing tresno jalaran soko kulino. Dan, menurut pakar membaca Mary Leonhardt, kecintaan membaca identik dengan kecintaan untuk mempelajari sesuatu yang baru atau yang akan terjadi.

5. Kita harus gemar membaca agar dapat membaca dengan baik

Pembiasaan -baik membaca yang dipupuk sedikit demi sedikit disertai kesabaran tinggi akan membuahkan suatu kegemaran. Atau, kalau susah sekali memantik minat untuk sungguh-sungguh membaca, ya berusaha-keraslah untuk menggemari aktivitas membaca. Kegemaran akan melahirkan penemuan satu metode efektif dalam hal membaca sesuai dengan karakter masing-masing pembaca. Misalnya, secara otomatis, seorang pembaca akan tiba-¬tiba mencatat, memberi tanda, dan mensistematisasi aktivitas membacanya.

6. Membaca dengan baik = menyantap "makanan ruhani" secara teratur, sebagaimana kita melakukan sarapan pagi, makan siang, diselingi "ngemil" di sore hari, dan akhirnya makan malam

Ini contoh pemaknaan sederhana atas hasil yang diharapkan lahir dari kiat kelima. Akhirnya toh, sebagaimana pernah disampaikan oleh pujangga Inggris, "We first make our habits, then our habits make us." Pada mulanya, kitalah yang menciptakan kebiasaan. Lama-kelamaan, kebiasaan yang kita ciptakan itulah yang membangun watak kita.

7. Membaca adalah salah satu aktivitas terpenting sepan¬jang hayat, lebih-lebih lagi di era Internet yang sarat percepatan dan perubahan seperti saat ini
Kiat terakhir ini semacam sugesti: pembangkit harapan dan semangat. Bagaimana kita mampu mengejar ketinggalan atau menyesuaikan dengan perubahan yang tengah terjadi bila kita enggan belajar terus lewat kegiatan yang paling mudah: membaca?

7 KIAT MEMBIASAKAN DIRI MENULIS EFEKTIF
1. Menulis = Membebaskan diri

Setiap orang memiliki kemampuan menulis atau menunjuk¬kan simbol-simbol yang tampak mata dalam mengomunikasikan sesuatu kepada orang lain. Kemampuan ini ibarat jin yang ter-simpan di botol Aladin dan botolnya tersumbat. Setiap orang perlu berupaya keras membebaskan sumbatan agar jin atau potensi menulis itu melejit keluar.

2. Menulis = Mengekspresikan diri

Ini merupakan salah satu cara membuang sumbatan botol. Anggaplah yang ada di dunia ini hanya Anda sendiri. Anda bebas mengutarakan apa saja dan tidak ada orang yang "mengancam" atau akan menilai Anda. Anda pun bebas mengaitkan materi yang ingin Anda ungkapkan sesuai dengan watak Anda.
3. Menulis = Menemukan diri

Ini juga dapat dikatakan dapat membantu mempercepat pembuangan sumbatan botol. Anda akan terdorong sangat keras bila aktivitas menulis ditargetkan untuk mengenal diri Anda sedikit demi sedikit ibarat menyusun mainan puzzle yang akhirnya gambaran keseluruhan (the big picture) tersusun indah dan penuh makna.

4. Milikilah catatan harian

Kiat keempat ini ibarat menyediakan wadah untuk menampung semburan potensi menulis Anda yang tiba-tiba sumbatan botolnya terlepas dan muncrat. Tulislah apa saja sepanjang hari. Saya anjurkan Anda menulis setiap hari pada pagi hari, sehabis bangun tidur. Saya anjurkan pula Anda menuliskan semua hal yang menyesaki benak Anda: Seorang psikolog dan ahli terapi menulis, James Pennebaker, menganjurkan, "Write your wrongs!"

5. Kebiasaan menulis = Kecintaan "mengikat" ilmu

Apabila Anda sudah memiliki catatan harian, biasakanlah untuk "mengikat" apa saja yang menurut Anda penting untuk diingat. Metode mengingat yang paling efektif itu adalah dengan mencatat. Sebagaimana komputer, gudang memori manusia itu sangat terbatas. Kalau terlalu melimpah datanya, komputer akan "hang", sementara manusia akan mengalami "stres".

6. Membacalah buku sebanyak-banyaknya

Ibarat Anda buang hajat besar lantaran kekenyangan, sese¬orang akan gampang mengungkapkan apa saja yang diingininya lewat tulisan bila "kekenyangan informasi yang diasyiki". Jadi, membacalah buku sesuai '7 Kiat Membiasakan Diri Membaca Efektif'.

7. Menulis = Aktivitas intelektual-praktis yang dapat dilaku¬kan oleh siapa saja dan amat berguna untuk mengukur sudah seberapa tinggi pertumbuhan ruhani seseorang


Itulah kiat-kiat yang diberikan oleh Mas Hernowo, dan ini sangat penting bagi kita yang ingin meningkatkan kualitas ktia dalam membaca dan menulis. Sekian dulu dari saya, semoga informasi diatas bisa bermanfaat bagi kita semua. amien.....


Wassalam wr.wb

Memanfaatkan “Mengikat Makna” untuk Menulis Karya Ilmiah, Mungkinkah?

04.06


Assalaamu'alaikum wr.wb

Memanfaatkan “Mengikat Makna” untuk Menulis Karya Ilmiah, Mungkinkah?

Oleh Hernowo (www.mizan.com)

Anda harus menulis dan menyingkirkan sekian banyak materi sampah sebelum Anda akhirnya merasakan suasana yang nyaman.” Ray Bradbury

Ketika sesi tanya-jawab di acara Seminar Nasional “Menjadi Kaya dengan Menulis” berlangsung, ada dua pertanyaan menarik yang ditujukan kepada saya. Gara-gara saya dipanelkan dengan pembicara lain yang membahas bagaimana menulis karya ilmiah, materi yang saya presentasikan menjadi seperti bertentangan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara lain tersebut. Dikarenakan tampak bertentangan itulah, akhirnya, muncul dua pertanyaan menarik tersebut.

Pertanyaan pertama terkait dengan judul tulisan saya ini. ”Apakah kiat-kiat menulis yang saya tawarkan dapat digunakan untuk menulis karya ilmiah?” Saya memahami sekali pertanyaan ini karena kiat-kiat saya seperti tak memiliki kerangka disiplin yang jelas, sementara menulis karya ilmiah perlu kerangka formal yang benar-benar sangat jelas.

Pertanyaan kedua masih nyambung dengan pertanyaan pertama, meski tak langsung, yaitu tentang terkesannya materi yang saya sampaikan bertentangan dengan materi pembicara kedua yang sepanel dengan saya. Saya menganjurkan menulis bebas, sementara pembicara kedua—karena menjelaskan bagaimana menulis karya ilmiah—sebaliknya, yaitu menganjurkan menulis karya ilmiah dengan beberapa aturan yang sudah disepakati oleh kalangan akademisi.

Apa jawaban saya?

Apa Sih Menulis Itu?
Saya menegaskan bahwa materi yang saya sampaikan tidak bertentangan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara kedua. Ketika ada dua orang sedang menjalankan kegiatan menulis—yang satu menulis karya ilmiah, sementara yang satunya menulis bukan karya ilmiah—kondisinya sama. Artinya, kedua orang itu sama-sama menggunakan alat-alat tulis yang tidak berbeda, seperti komputer (laptop), mesin ketik, atau alat-alat tulis lain. Kemudian, pada intinya, menulis itu—sekali lagi apa pun jenis tulisan yang ditulis seseorang—adalah kegiatan merangkai huruf menjadi kata, kalimat, paragraf yang terstruktur dan punya makna.

Kiat-kiat yang saya susun dan tawarkan kepada publik berangkat dari sini. Bahkan ketika saya menawarkan konsep ”brain-based writing”, meskipun dua orang yang sedang menulis itu menjalankan kegiatan menulis dengan materi yang ditulisnya berbeda, saya tetap menganggap bahwa kedua orang itu tetap menggunakan komponen-komponen otak yang sama saat menulis. Benar bahwa tulisan yang dihasilkan itu punya kadar yang berbeda. Namun, sekali lagi, ketika keduanya sedang menjalani kegiatan menulis, ya kondisi dirinya sama, tidak berbeda.

Nah, buku-buku saya yang membicarakan kiat-kiat menulis, sesungguhnya menampung semacam riset kecil-kecilan saya terkait dengan hal-hal mendasar ihwal menulis. Saya menemukan bahwa ada dua ruang untuk menulis. Dua ruang itu bernama ”ruang privat” dan ”ruang publik”. ”Ruang privat” sifatnya sangat pribadi dan hanya individu yang menulis itulah yang eksis, sementara ”ruang publik” adalah ruang di mana individu itu harus mengikuti aturan pihak lain ketika menulis. ”Ruang privat” ini sifatnya subjektif, dan ”ruang publik” itu objektif.

Dua ruang itu sangat logis. Ketika saya belum tahu dan belum membedakan secara sangat tegas kedua ruang untuk menulis itu, saya mencampur dua ruang tersebut. Efeknya luar biasa. Saya tidak nyaman dalam menulis. Kadang, bahkan, saya tersiksa ketika menulis. Yang membuat saya frustrasi adalah saya kemudian seperti terbebani ketika menulis karena dua ruang itu saya campur. ”Berat sekali ya menulis itu?” Demikianlah. Hal ini dikarenakan saya tidak dapat bebas menulis dan senantiasa cemas apakah tulisan saya sudah objektif (memenuhi kaidah) atau belum.

Ternyata, setelah saya mendengar riset Roger Sperry yang membuktikan manusia punya dua belahan otak—kiri dan kanan—dan masing-masing belahan itu berfungsi secara sangat berbeda, dua ruang yang saya ciptakan itu ternyata sesuai dengan masing-masing fungsi belahan otak. Otak kiri, yang suka mengoreksi, berpikir secara rasional, tertib, dan satu-satu. Otak kanan, sebaliknya, suka dengan kebebasan, berpikir menyeluruh, dan loncat-loncat. Alangkah klopnya jika, pada saat awal menulis, kita menggunakan otak kanan dan mempersepsi sedang menulis di ”ruang privat” di mana subjektivitas kita sangat menonjol.

Jadi, ketika kita mengawali menulis, kita bebaskan lebih dulu diri kita dari jeratan aturan menulis yang telah ada di benak kita. Dalam menjalani kegiatan menulis, kita benar-benar melibatkan keinginan, harapan, dan kemampuan kita. Kegiatan menulis ini tidak datang dari luar, tetapi dari dalam. Jadi, ketika kita menulis di ”ruang privat”, kita mengendalikan semua hal yang ingin kita tulis dan kita menggunakan cara-cara yang memang sesuai dengan kemampuan kita. Saya yakin, jika kita dapat mengawali menulis seperti ini, kita tentu bisa menikmati kegiatan menulis.

Sekali lagi, di ”ruang privat”, kita bebas menulis apa saja. Setelah menghasilkan tulisan, tulisan yang sudah jadi itu pun tidak buru-buru kita koreksi. Karena, ingat, menulis di ”ruang privat” adalah menulis dengan otak kanan yang bebas, yang menyeluruh. Kita menumpahkan segalanya lebih dulu. Kita mengalirkan apa pun yang bisa kita alirkan. Kita harus benar-benar merasa plong atau lega ketika selesai mengalirkan semua yang ingin kita tulis. Inilah kegiatan menulis di ”ruang privat”. Dan itu bisa dijalankan siapa saja dan bisa untuk menulis materi apa saja termasuk materi yang berkadar karya ilmiah.

Memang, menulis di ”ruang privat” baru separo jalan. Sifatnya pun masih subjektif meski, kelebihannya, bahan yang ditulis benar-benar milik diri pribadi yang menulis. Masih ada separo jalan lagi, yaitu menulis di ”ruang publik” atau menulis secara objektif, menulis yang disesuaikan dengan aturan yang diciptakan oleh orang atau lembaga lain. Namun, saya yakin, menulis di ”ruang publik” akan jauh lebih mudah dan ringan jika diawali dengan menulis di ”ruang privat”.


”Mengikat Makna” untuk Menulis Karya Ilmiah

Apa yang saya jelaskan di atas merupakan bagian kecil dari kiat-kiat yang saya himpun di dalam konsep menulis yang saya namakan dengan ”mengikat makna”. Hukum utama ”mengikat makna” adalah tidak memisahkan kegiatan membaca dengan menulis. Anda akan menjadi mudah dan ringan dalam menulis—apa pun yang ingin Anda tulis, termasuk menulis karya ilmiah—apabila memadukan kegiatan membaca dan menulis. Menulis memerlukan membaca dan membaca memerlukan menulis. Saya kira ini pasti sesuai dengan aturan objektif di dalam menulis karya ilmiah.

”Mengikat makna”, jika diikuti dengan benar, akan membuat seseorang yang sedang menulis karya ilmiah akan mampu menulis karya ilmiahnya dengan bahasa yang mengalir, tidak kaku, dan enak dibaca. Sebagaimana pernah saya ulas di buku saya, Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (MLC, 2005), ketika saya mendefinisikan buku-buku yang mengalir, yang saya rujuk, meski tak 100% buku ilmiah, adalah buku-buku yang ditulis dengan ”semangat” ilmiah. Artinya, buku itu ditulis dengan bertanggung jawab dan referensinya sangat jelas.

Menurut pengamatan saya, buku-buku yang dikategorikan buku ilmiah, menjadi sangat kaku, kering, dan kadang membosankan karena si penulis karya ilmiah itu tidak memiliki keterampilan menulis (jarang berlatih menulis bebas) dan miskin dalam kosakata (jarang membaca buku yang beragam). Saya yakin, jika si penulis karya ilmiah itu rajin berlatih menulis bebas, lantas menguasai persoalan yang dikajinya, dan kaya akan kata-kata, pastilah karya ilmiahnya bisa mengalir, enak dibaca, dan tidak membosankan. Saya menciptakan konsep-konsep dan kiat-kiat membaca dan menulis dengan tujuan agar sebuah buku—termasuk buku yang masuk kategori karya ilmiah atau buku pelajaran—dapat disajikan dalam bahasa yang mengalir dan enak dibaca.

Jadi, ”mengikat makna” ingin membantu siapa saja yang berniat menulis karya ilmiah agar karyanya itu berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Karya ilmiahnya menjadi karya yang menerobos, yang mengasyikkan jika dibaca, dan memberikan banyak sekali manfaat. Sayang kan jika kita sudah memiliki potensi untuk membuat karya ilmiah atau sudah menuntut ilmu hingga jenjang yang sangat tinggi, akhirnya, gara-gara terperangkap oleh aturan objektif menulis karya ilmiah yang sudah digariskan, kita (orang-orang yang sangat berpotensi) kemudian terkendala dalam membuat buku atau malah menjadi malas untuk menulis hal-hal yang sederhana.

Nah, sebagai contoh kecil, cobalah ikuti saja saran saya dengan, pertama-tama, membuat dua ruang untuk menulis di dalam benak kita sebagaimana saya jelaskan di atas. Menulislah lebih dahulu secara sangat bebas di ”ruang privat”. Biasakan untuk ”membuang” apa saja setiap hari, lewat menulis bebas, di ”ruang privat”. Hasil tulisan yang lahir di ”ruang privat” ak usah buru-buru dikoreksi, yang penting buang saja—apa pun materi itu termasuk materi-materi yang berkategori ilmiah yang belum teruji benar. Kumpulkan semua bahan tulisan yang masih kasar itu dengan telaten hari demi hari, mingu demi minggu, bulan demi bulan. Menulislah dengan bebas secara mencicil. Menulis tidak bisa sekali jadi. Menulis untuk menghasilkan tulisan yang baik adalah dengan menulis mencicil. Nanti, kalau sudah cukup banyak, mulailah ditata dan masuklah ke ”ruang publik”. Baca kembali tulisan-tulisan yang masih berantakan itu dan kelompokkan. Gunakan otak kiri untuk menata dan mengoreksinya. Baca buku-buku referensi untuk membuat tulisan tersebut menjadi objektif. Bandingkan dengan tulisan atau buku-buku lain. Saya yakin, jika kegiatan menulis sebagaimana yang saya tawarkan dapat dijalankan secara perlahan dan sedikit demi sedikit, tentulah menulis itu dapat dinikmati dan tidak membebani. Itulah tujuan ”mengikat makna” dan kiat-kiat menulis yang saya ciptakan.

Saya percaya bahwa ada materi yang termasuk karya ilmiah yang tidak bisa dijabarkan lewat kata-kata yang mengalir dan enak dibaca. Apalagi jika materi itu berisi data dengan tabel dan grafik yang banyak. Namun, sekali lagi, saya yakin bahwa semua itu bisa disiasati oleh para penulis yang memiliki keterampilan menulis dan kaya akan kata-kata. Saat ini telah banyak buku-buku yang bisa dikategorikan ilmiah tapi disajikan dengan bahasa tulis yang enak dinikmati. Buku karya Daniel Goleman, Emotional Intelligence, yang sarat dengan riset-riset ilmiah, ternyata bisa disajikan dengan gaya bercerita. Ada kemungkinan, buku Goleman ini tidak murni ilmiah, tapi masuk kategori ilmiah populer.

Saya setuju saja jika buku Goleman dimasukkan dalam kategori tidak murni ilmiah, tapi semi ilmiah atau ilmiah populer. Tetapi, ayolah para sarjana dan cendekiawan Indonesia! Bergairahlah untuk menulis dan membuat buku-buku yang tidak usah ilmiah tetapi dapat dipertanggungjawabkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.


Wassalam wr.wb

Murottal AlQuran

Aqidah

Tanya Jawab

 

© Copyright Indahnya Islam 2010 - 2016 | Powered by Blogger.com.