News Update :

Video Ceramah

Ibadah

Ceramah Islam

Doa Doa Shahih

Video Debat Dr. Zakir Naik vs Pastor Ruknuddin Henry Pio

23 Juli 2016 07.36

Dr. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan Dr. Zakir Naik adalah seorang pembicara umum Muslim India, dan penulis hal-hal tentang Islam dan perbandingan agama. Secara profesi, ia adalah seorang dokter medis, memperoleh gelar Bachelor of Medicine and Surgery (MBBS) dari Maharashtra, tapi sejak 1991 ia telah menjadi seorang ulama yang terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Ia menyatakan bahwa tujuannya ialah membangkitkan kembali dasar-dasar penting Islam yang kebanyakan remaja Muslim tidak menyadarinya atau sedikit memahaminya dalam konteks modernitas.

Kita terkadang secara “stigma” menyamaratakan bahwa Islam adalah arab dan arab adalah Islam. Padahal nyatanya tidak begitu. Terbukti Abu Jahal dan Abu Lahab pun orang arab tulen akan tetapi mereka menolak agama Islam. Itu adalah contoh ummat yang telah berlalu. Di abad ini pun ternyata tidak jauh berbeda, banyak juga orang arab yang tidak menerima Islam bahkan memusuhi Islam. Salah satunya seperti pastor Ruknuddin Henry Pio. Dia adalah salah seorang missionaris kristen Arab yang menolak ajaran-ajaran Islam. Di sisi lain, banyak juga orang non Arab yang justru menganut Islam dan bahkan membela Islam sepenuh jiwa raga, salah satu contohnya adalah Dr. Zakir Abdul Karim Naik, atau biasa dikenal Zakir Naik.

Dalam suatu kesempatan, mereka pernah berdebat sengit tentang iman, terutama dalam masalah “Benarkah Yesus Disalib?”. Perdebatan tersebut menjadi sangat terkenal dan direkam dalam kamera, dan kini Anda dapat menikmati dan mengambil manfaatnya melalui video di bawah, kami sajikan dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia:

Debat Dr Zakir Abdul Karim Naik dengan Pastor Ruknuddin Henry Pio Versi Bahasa Indonesia (Full)


Was Jesus Really Crucified? Dr. Zakir Naik IRF vs. Pastor Ruknuddin Henry PIO complete (English)

Menunaikan Zakat Kepada Saudara Kandung, Bolehkah?

02 Juli 2016 21.09

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Allah telah tetapkan 8 golongan penerima zakat di QS. Al-Taubah: 60. Tidak boleh zakat diserahkan kepada selain mereka.
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengelola-pengelolanya, para mu’allaf, serta untuk para budak, orang-orang yang berhutang, dan pada sabilillah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang telah diwajibkan Allah. Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.” (QS. Al-Taubah: 60)
Ayat tersebut diawali dengan INNAMA yang berposisi sebagai Adatul Hashr (kata pembatas) yang memberi makna bahwa pihak-pihak penerima zakat terbatas yang disebutkan di ayat tersebut. “Karena itu, tidak boleh memberikan zakat kepada seseorang atau pihak yang tidak termasuk dalam delapan golongan ini,” kata Syaikh Abu Malik Kamal di Shahih Fiqih Sunnah: 3/82)
Jika saudara kandung termasuk salah satu dari golongan penerima zakat – seperti fakir miskin atau terlilit hutang- maka boleh mengeluarkan zakat untuknya. Syaratnya, nafkah suadara tadi tidak berada di bawah tanggungannya. Bahkan menyerahkan zakat kepadanya lebih utama dari pada ke orang lain.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sedekah kepada orang miskin adalah (dapat pahala,_pent) sedekah. Sedangkan sedekah kepada kerabat ada dua pahala; pahala sedekah dan pahala silaturahim.” (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasan)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah berkata,
يجوز أن تدفع زكاة الفطر وزكاة المال إلى الأقارب الفقراء ، بل إنَّ دفعَها إلى الأقارب أولى من دفعها إلى الأباعد ؛ لأن دفعَها إلى الأقارب صدقةٌ وصلةٌ ، لكن بشرط ألا يكون في دفعها حمايةُ ماله ، وذلك فيما إذا كان هذا الفقير تجب عليه نفقته أي على الغني ، فإنه في هذه الحال لا يجوز له أن يدفع حاجته بشيء من زكاته  لأنه إذا فعل ذلك فقد وفر ماله بما دفعه من الزكاة، وهذا لا يجوز ولا يحل.

Zakat fitrah dan zakat mal boleh diberikan kepada kerabat dekat. Bahkan memberikan zakat itu kepada kerabat dekat lebih utama daripada diberikan kepada kerabat jauh. Karena memberikan zakat kepada kerabat dekat termasuk sedekah dan silaturahim. Tetapi dengan syarat, mengeluarkan harta zakat itu bukan sebagai trik menjaga (melindungi) hartanya. Yakni, saat si fakir itu menjadi beban tanggungannya (dalam urusan nafkahnya_red), yakni si orang kaya itu. Dalam masalah ini tidak boleh memenuhi kebutuhan (tugasnya) dari zakatnya sendiri. Karena jika ia lakukan itu maka ia telah tutupi kewajiban nafkah dari hartanya dengan zakat yang telah dikeluarkannya. Ini tidak boleh dan tidak halal.” (Majmu’ fatawa wa Rasail, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, jilid XIX, dikutip dari situs islamwa.net)
Beliau menambahkan,
أما إذا كان لا تجب عليه نفقته، فإن له أن يدفع إليه زكاته، بل إن دفع الزكاة إليه أفضل من دفعها للبعيد لقول النبي صلى الله عليه وسلم: صدقتك على القريب صدقة وصلة

Adapun jika nafkah kerabatnya itu bukan menjadi tanggungannya, ia boleh serahkan zakatnya itu kepadanya. Bahkan, memberikan zakat kepadanya lebih utama daripada menyerahkannya kepada orang jauh, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Sedekahmu kepada orang dekat (kerabat) adalah sedekah dan silaturahim.
Pendapat Syaikh Ibnu Bazz Rahimahullah juga serupa,
أما بقية الأقارب كالإخوة، والأعمام، وبني العم، وبني الخالة، وأشباههم، فيعطون الزكاة إذا كانوا فقراء، أو غارمين، عليهم ديون ما يستطيعون أدائها

Adapun kerabat yang lain seperti saudara kandung, paman dari pihak Bapak, saudara sepupu, dan yang serupa dengan mereka; mereka diberi zakat jika mereka miskin atau orang-orang yang berhutang, mereka punya hutang yang tak sanggup membayarnya.
Beliau berdalil dengan QS. Al-Taubah: 60 di atas. Dan zakat itu bernilai sedekah dan silaturahim.
Kesimpulanya, Kita boleh menyerahkan zakat kita kepada suadara kandung, saudara seibu atau sebapak, dan paman kita yang miskin atau terlilit hutang.  Mereka itu boleh menerima zakat dari kita. Syaratnya, nafkah saudara kita itu bukan menjadi tanggungan kita. Bahkan menunaikan zakat kepadanya lebih utama dari ke selainnya; karena memiliki keutamaan sedekah dan silaturahim. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

oleh ustadz badrul tamam

Sahur Ketika Adzan Berkumandang

20 Juni 2016 05.57



Pertanyaan:
Ketika sedang enak-enaknya sahur, tiba-tiba suara azan Shubuh terdengar. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:
Orang yang sedang makan sahur tidak lepas dari dua keadaan:
Pertama: Jika ia sedang mengunyah makanan atau sedang meneguk air yang berada di mulutnya maka hendaknya ia meneruskannya sampai semua makanan atau air tersebut masuk ke dalam perutnya, dan tidak perlu memuntahkan makanan atau minuman keluar. Dalilnya adalah  sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إذا سمع أحدكم النداء والإناء على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته
” Jika diantara kamu mendengar adzan, sedang piring sedang di tangannya, maka hendaknya dia jangan meletakkannya sebelum menyelesaikan hajatnya.” (Hadits Shahih, HR Abu Daud dan Ahmad).

Maksud hadits di atas adalah jika seseorang sedang mengunyah makanan atau sedang meneguk air maka hendaknya diteruskan sampai selesai.

Kedua: Jika dia tidak sedang mengunyah atau meneguk air, tetapi di dalam piringnya atau di dalam gelasnya masih  terdapat makanan atau minuman yang tersisa maka dalam hal ini dia harus menghentikan makan atau minumnya. Kalau dia tetap meneruskannya maka puasanya batal. Dalilnya adalah firman Allah Ta’alaa,
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al -Baqarah: 187).

Ayat di atas menyuruh kita untuk berhenti makan sahur ketika datang fajar atau ketika terdengar adzan subuh. Perintah tersebut mengandung arti wajib. Jika dilanggar maka puasanya menjadi batal.
Sumber: http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/392/sahur-tanya-jawab-puasa/

Makin Banyak Warga Jakarta Tolak Wilayahnya Didatangi Ahok

05.52



Basuki Tjahaja Purnama semakin tidak dianggap oleh masyarakat Jakarta. Ahok bahkan terkesan dijadikan sebagai salah satu musuh masyarakat, alias Public Enemy.
 
Setelah rencana untuk menghadiri kegiatan di dua mesjid wilayah Kalideres, tidak kesampaian, akibat penolakan oleh warga dengan alasan jika nantinya Ahok datang justru akan menjadikan mereka korban fitnah.

“Masuk ke dalam mesjid, lalu foto-foto dan diunggah ke sosial media, seakan-akan semua mendukungnya, itu kan fitnah, dan kami tidak mau ikut berdosa atas fitnah itu,” ujar salah satu warga Kalideres.

Rencana Ahok yang ingin mendatangi mesjid dengan alasan safari ramadhan, yang berada di Jakarta tidak berjalan mulus, penolakan demi penolakan akhirnya mulai berjalan.

Kali ini remaja mesjid Nurul Falah, Jalan Tanjung Duren Pasar Kopro Grogol, Petamburan Jakarta Barat, yang tidak menginginkan Ahok, para remaja mesjid berkumpul di depan Mesjid, tidak lain menghalau rombongan  Ahok jangan sampai tiba di Mesjid.

Bahkan ketika pelaksanaan shalat taraweh, mereka masih waspada agar Ahok jangan sampai muncul dan masuk menginjak mesjid, karena bagi mereka Ahok bukanlah manusia yang layak menjadi teman.

“Kami bukan bagian dari teman Ahok, karena kami tidak kenal sama sekali, dan juga tidak mau tahu siapa Ahok, dan Ahok tidak pantas jadi Gubernur Jakarta,” ujar salah satu pemuda.

Fenomena penolakan Ahok semakin kencang, bahkan pemaksaan agar Ahok bisa memasuki wilayah, terutama wilayah mesjid, menjadi peringatan tersendiri bagi Ahok dari warga muslim Jakarta.

“Jika sampai Ahok tetap memaksa maka urusan terjadinya keributan, bukan urusan kami,” ujarnya mengingatkan jika Ahok tetap memaksa masuk dengan menggunakan TNI dan Polri, masyarakat justu semakin tidak berempati.(ts/pb)/ eramuslim.com

Aa Gym Sakit, Titipkan Pesan

05.48



Kabar dari Daarut Tauhid, Bandung,  Abdullah Gymnastiar, diberitakan dalam kondisi sakit,  tapi sempat Aa Gym memberikan nasehat kepada kita.

“Bayangkan saudaraku sekalian, andai setiap napas harus menggunakan tabung oksigen seperti ini. Harga satu tabung ini 45 ribu hanya cukup untuk dua jam,” terang Aa Gym dalam akun Instagramnya.

“Benar-benar setiap napas itu adalah karunia dari Allah. Kurang saja oksigen di tubuh ini, maka kepala jadi pusing, otak tidak bisa berpikir, tubuh menjadi dingin, beberapa menit saja kita kehilangan oksigen berarti berakhir hidup kita,” ujar Aa Gym sambil menunjukan alat bantu pernapasan yang ia kenakan.

Aa Gym mengajak agar kita bernapaslah dengan penuh rasa syukur. “Fabiayyiaalaairabbikumaa Tukadzdzibaan. Maka nikmat tuhanmu mana yang kamu dustakan,” tutup Aa.

Beliau menitipkan Wasiat.  1. Jangan menunda kewajiban. 2. jangan sia siakan org tua yg masih hidup, 3. Minta taubat setelah berbuat dosa. 4. Jangan tunda taubat. 5. Jangan sia siakan kebersamaan bersama guru. 6. Jangan bikin kesan tdk enak terhadap org lain. Jauhi maksiat. 7. Selalu berprasangka baik jika ingin hkusnul khatiman. 8. Jangan nunda kebaikan. 9. Belia minta di makam kan d Eco pesantren. 10. Jangan sia siakan waktu dn jangan banyak berbuat yg sia sia. Mohon maafkan jika Aa banyak salah kpd masyarakat Indonesia semuanya.

“Pengen ada umur buat nebus dosa. Tapi jika memang tidak ada lagi umur, aa lebih memilih ingin meninggal di masjid.

Aa ingin dimakamkan di eco pesantren, di dekat masjid. Jangan bangun apapun di atas kuburan aa.. Dll”
Terakhir, beliau justru mendoakan santrinya,

”ya Allah, jadikanlah santri2 ini hamba2 kesayangan-Mu, hafidz-hafidzah, shaleh-shalehah, …”
Kata Aa, ”banyak do’a buat aa ya.. Maafin Aa” (BS/lh)/ eramuslim.com

Delapan Perbedaan Antara Tarawih dan Tahajjud

16 Juni 2016 10.47



Pertanyaan :


Assalamu’alaikum.Mohon izin untuk meminta penjelasan yang lengkap terkait dengan ritual ibadah bukan Ramadhan, khususnya tentang tarawih.

1. Terus terang saya masih agak rancu membedakan antara shalat tarawih dengan shalat malam, qiyamullail dan tahajjud. Apakah semuanya adalah shalat yang sama tetapi dengan penyebutan yang berbeda.

2. Apa saja perbedaan antara shalat tarawih dengan shalat tahajjud?  Apakah shalat tarawih itu sebuah nama untuk shalat tahajjud yang dilakukan pada bulan Ramadhan? Ataukah tarawih itu shalat khusus di luar shalat tahajjud.

Mohon penjelasan dan terima kasih sebelum dan sesudahnya, hanya Allah yang akan membalas kebaikan Pak Ustad.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Jawaban : 
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Benar sekali bahwa antara istilah tarawih, tahajjud dan qiyamullail ini seringkali bikin kita pusing. Sebab banyak sekali yang memahaminya dengan rancu dan terbolak-balik. Oleh karena itu mari coba kita bahas pelan-pelan, semoga menjadi terurai dan jelas masing-masing maknanya.

A. Pengertian Qiyamullail 

Kita mulai dari pengertian qiyamullail dulu, karena ruang lingkupnya paling luas. Para ulama mengatakan bahwa qiyamullail sebagaimana maknanya secara bahasa : bangun malam, maksudnya adalah semua jenis shalat yang dikerjakan malam hari, khususnya setelah shalat Isya' hingga shalat shubuh.

Sehingga baik shalat tarawih atau pun shalat tahajjud, keduanya termasuk ke dalam qiyamullail. Namun tentu saja antara tarawih dan tahajjud punya banyak sekali perbedaan.

B. Perbedaan Antara Shalat Tarawih dan Tahajjud

Meski sama-sama tercakup dalam agenda qiyamullail, namun umumnya para ulama membedakan antara shalat tarawih dengan tahajjud. Setidaknya ada delapan perbedaan yang bisa kita catat dalam kesempatan ini. Di antara perbedaan-perbedaan itu antara lain :

1. Perbedaan Pertama : Masa Pensyariatan Tarawih

Tarawih belum disyariatkan ketika Rasulullah SAW masih di Mekkah, maka selama di masa  Mekkah tidak dikenal shalat tarawih, karena baru nanti ketika di Madinah setelah hijrah Rasulullah SAW melaksanakannya.

Berbeda dengan shalat tahajjud yang disyariatkan sejak awal mula masa kenabian. Ada yang mengatakan bahwa wahyu kedua yang turun sudah memerintahkan bangun malam dalam arti shalat tahajjud. Intinya, shalat tahajjud sudah dikenal dan disyariatkan sejak masih di masa Mekkah.

Hingga akhir masa kehidupan Nabi SAW, beliau masih terus melakukan shalat tahajjud. Sedangkan shalat tarawih, dengan alasan takut diwajibkan, beliau SAW dan para shahabat tidak lagi melakukannya hingga wafat.

Dari sisi pensyariatannya saja, tarawih dan tahajjud memang sudah berbeda. Maka jangan sampai rancu dalam memahami keduanya.

2. Perbedaan Kedua : Tarawih Nabi SAW Hanya Tiga Kali

Sebagaimana disinggung di atas, kalau kita telurusi hadits-hadits yang shahih, ternyata shalat tarawih di masa Nabi SAW dilakukan hanya tiga kali saja. Shalat itu dilakukan secara berjamaah dan dilakukan di dalam masjid nabawi.

Semakin hari semakin ramai para shahabat yang mengikutinya, hingga kemudian beliau SAW menghentikannya. Sehingga para shahabat pun otomatis juga meninggalkannya. Alasannya karena beliau khawatir bila tarawih diwajibkan dan akan memberatkan.

Tidak ada keterangan yang valid apakah beliau SAW mengerjakannya sendirian di rumah. Yang jelas ketika meninggalkannya, Rasulullah SAW menegaskan alasannya, yaitu karena takut tarawih itu diwajibkan.

Sedangkan shalat tahajjud dilakukan oleh Rasulullah SAW setiap malam, tanpa pernah dihentikan lantaran takut diwajibkan. Maka sepanjang hidupnya pada tiap malam beliau SAW selalu melakukan shalat tahajjud. Tidak peduli apakah di dalam bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan, karena tahajjud khusus buat beliau SAW hukumnya wajib.

3. Perbedaan Ketiga : Tarawih Hanya di Bulan Ramadhan

Para ulama umumnya sepakat bahwa shalat Tarawih itu bukan shalat tahajjud. Hal utama yang membedakan tarawih dengan tahajjud adalah bahwa tarawih ini hanya disyariatkan di bulan Ramadhan saja.

Tidak ada shalat tarawih yang dikerjakan di luar bulan Ramadhan. Di luar bulan Ramadhan, kalau ada shalat yang disunnahkan, hanya shalat tahajjud dan shalat witir. Tahajjud dilakukan oleh Rasulullah SAW setelah beliau tidur malam, sedangkan shalat witir merupakan penutupnya.

Namun ada juga keterangan bahwa shalat witir itu bisa dikerjakan sebelum tidur. Namun namannya tetap shalat witir dan bukan tarawih.

4. Perbedaan Keempat : Tarawih Berjamaah di Masjid

Perbedaan penting antara tarawih dan tahajjud adalah bahwa selama tiga kali Rasulullah SAW dan para shahabat melakukannya, semua dilakukan dengan berjamaah yang amat banyak, bahkan hingga memenuhi masjid nabawi kala itu.

Bahkan salah satu alasan kenapa shalat tarawih saat itu dihentikan juga salah satunya karena jamaahnya semakin banyak. Sehingga Rasulullah SAW khawatir bila hal itu dibiarkan terus menerus, akhirnya akan diwajibkan oleh Allah SWT.

Sedangkan shalat tahajjud, meski hukumnya boleh berjamaah, tetapi dalam kenyataannya Rasulullah SAW lebih sering melakukannya sendirian, tidak mengajak orang-orang untuk ikut di belakang beliau. Kadang beliau mengerjakannya di dalam rumah (kamar Aisyah), kadang beliau lakukan di dalam masjid.

Kalau pun ada shahabat yang ikut jadi makmum, paling-paling satu dua orang saja. Tidak ada catatan bahwa shalat tahajjud yang beliau SAW lakukan diikuti orang satu masjid.

Oleh karena itulah kebanyakan ulama lebih menganjurkan shalat tahajjud dikerjakan sendirian, meski ada juga yang membolehkan untuk dikerjakan berjamaah di masjid.

5. Perbedaan Kelima : Tarawih Sebelum Tidur

Shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat yang hanya tiga kali itu ternyata dilakukan sesudah shalat isya' dan sebelum tidur malam. Mirip dengan yang semua orang lakukan di masa sekarang ini.

Sedangkan shalat tahajjud dilakukan oleh Rasulullah SAW di akhir malam, setelah beliau SAW selesai beristirahat tidur malam. Tidak ada shalat tahajjud yang dilakukan pada awal malam.

Secara bahasa, kata tahajjud (تهجد) berasal dari kata hujud (هجود). Menariknya, kata tahajjud punya dua arti sekaligus yang berlawanan, begadang dan tidur. Jadi bisa diterjemahkan menjadi begadang, tapi kadang bisa juga diterjemahkan menjadi tidur.
Al-Azhari dalam Lisanul Arab menyatakan bahwa bila kita menyebut Al-Hajid (الهاجد) artinya adalah orang yang tidur. Kata hajada (هجد) bermakna tidur di malam hari (نام بالليل).
Sedangkan kalau kita sebut Al-Mutahajjid (المتهجد) artinya adalah orang yang bangun pada malam hari untuk ibadah. Seolah-olah mutahajjid ini adalah orang yang membuang hujud (tidur) dari dirinya.
Sedangkan secara istilah syariat, di dalam kitab Nihayatul Muhtjd jilid 2 hal. 127 disebutkan bahwa tahajjud adalah :
صَلاَةُ التَّطَوُّعِ فِي اللَّيْل بَعْدَ النَّوْمِ
Shalat tathawwu' pada malam hari setelah bangun dari tidur.
Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Al-Hajjaj bin Amr radhiyallahuanhu :
يَحْسِبُ أَحَدُكُمْ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْل يُصَلِّي حَتَّى يُصْبِحَ أَنَّهُ قَدْ تَهَجَّدَ إِنَّمَا التَّهَجُّدُ : الْمَرْءُ يُصَلِّي الصَّلاَةَ بَعْدَ رَقْدَةٍ
Ada seorang diantara kalian yang mengira bila seseorang shalat di malam hari hingga shubuh, dia dikatakan sudah bertahajjud. Padahal tahajjud itu adalah seseorang melakukan shalat setelah bangun dari tidur. 

6. Perbedaan Keenam : Rakaat Tarawih Ikhtilaf

Bicara jumlah rakaat tahajjud, kita punya banyak hadits yang menyebutkan bahwa beliau SAW mengerjakannya dengan 11 atau 13 rakaat.
كَانَ رَسُول اللَّهِ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْل ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً
Adalah Rasulullah SAW shalat malam dengan 13 rakaat (HR. Muslim)
Namun ada juga hadits yang menyebutkan bahwa beliau SAW shalat malam tidak lebih dari 11 rakaat, sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahuanha berikut ini :
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
Beliau SAW (shalat malam) tidak pernah lebih dari 11 rakaat, baik di dalam bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan (HR. Bukhari)

Tetapi kalau kita bicara tentang jumlah rakaat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat, maka timbul ikhtilaf di tengah lama. Mengapa?

Ternyata memang kita tidak menemukan haditsnya. Sehingga berapa jumlah rakaatnya, tidak pernah disebutkan dalam hadits secara tegas. Kalau ada yang bilang beliau mengerjakan 11 atau 20 rakaat, tentu bukan merupakan fakta dari nash hadits, melainkan sekedar tafsir dan asumsi.

Memang ada segelintir orang yang bilang bahwa beliau tarawih 11 rakaat berdasarkan hadits Aisyah yang shahih. Haditsnya memang shahih, tetapi para ulama umumnya sepakat bahwa hadits itu bukan terkait dengan shalat tarawih, melainkan shalat tahajjud itu sendiri.

Kalau untuk shalat tahajjud, umumnya para ulama sepakat bahwa beliau mengerjakannya 11 rakaat. Tetapi untuk tarawih, tidak ada satu pun dalil tentang jumlahnya di masa Nabi SAW.

Data yang paling valid tentang jumlah rakaat tarawih adalah tarawih yang dilakukan seluruh shahabat sepeninggal Rasulullah SAW di masa kepemimpinan Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu, tepatnya tahun kedua sejak beliau menjadi khalifah.

Seluruh shahat telah berijma' untuk mengerjakan tarawih sebanyak 20 rakaat, tidak ada satupun yang menolaknya. Asumsinya, kalau seluruh shahabat mengerjakan 20 rakaat, pastilah mereka tidak ngasal dan bukan ngarang. Logikanya, pastilah mereka melakukannya persis seperti yang dahulu mereka lakukan di masa Nabi SAW, yaitu sebanyak 20 rakaat.

Tetapi sekali lagi, itu sekedar asumsi, nalar dan logika berpikir, bukan fakta yang sesungguhnya. Meskipun demikian, hampir seluruh ulama sepakat bahwa jumlah rakaat tarawih itu 20 rakaat berdasarkan ijtihad.

7. Perbedaan Ketujuh : Hukum Shalat Tarawih

Meski pernah dihentikan pengerjaannya di masa Nabi SAW, namun para ulama sepakat bahwa penghentian itu bukan berarti pencabutan atas pensyariatannya. Penghentian itu semata karena alasan takut diwajibkan, sehingga ketika beliau SAW wafat, maka kekhawatiran itu tidak lagi beralasan. Sebab tidak ada pensyariatan apapun sepeniggal beliau SAW.

Maka para shahabat menjalankan shalat tarawih ini dengan status hukum sunnah, dan sebagian lagi memberi status sunnah muakkadah.

Berbeda dengan tahajjud, dimana banyak ulama mengatakan bahwa hukumnya wajib buat Rasulullah SAW dan sunnah buat ummatnya. Perhatikan hadits berikut ini :
ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضَ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّع: الوِتْرُ وَالنَّحْرُ وَصَلاَةُ الضُّحَى
Tiga perkara yang bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu' (sunnah), yaitu shalat witir (tahajjud), menyembelih udhiyah dan shalat dhuha. (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

8. Perbedaan Kedelapan : Tarawih Banyak Istirahatnya

Perbedaan yang juga bisa kita catat bahwa shalat tarawih ini banyak istirahatnya, sebagaimana nama yang disematkan kepadanya.

Duduk istirahat di sela-sela rakaat tarawih itu menjadi amat mutlak diperlukan. Karena umumnya jumlah rakaatnya banyak dan bacaannya cukup panjang. Tidak mungkin semua itu dilakukan dengan cara berdiri terus-terusan tanpa jeda istirahat. Apalagi yang ikut shalat ini cukup banyak jumlahnya.

Lain halnya tahajjud yang umumnya Nabi SAW melakukannya sendirian. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa beliau SAW shalam sampai bengkak kakinya, karena saking lamanya. Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau bersitirahat di sela-sela rakaat tahajjud.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Ippho Santosa: Ribut Perda Ramadhan, Anda Pernah Nyepi di Bali?

10.34



Ippho Santosa adalah seorang penulis, pembicara, motivator dan pengusaha muslim Indonesia. Berikut tulisan dari Ippho Santosa terkait berita yang lagi rame, Perda yang mengatur warung makan di bulan Ramadhan.
Tulisan ini diposting di fbnya (Selasa, 14/6/2016). Selamat menyimak…:
Pernah Nyepi di Bali? Keluarga saya pernah. Seperti yang kita tahu, saat Nyepi, hampir semua kegiatan ditiadakan. Contoh, selama Nyepi keluarga pasien di berbagai rumah sakit tidak boleh keluar RS dengan alasan apapun. Stok makanan pun harus disiapkan, mengingat warung di sekitar RS juga tutup.
Selama Nyepi, bandara tutup 1 hari dan ratusan penerbangan ditiadakan. Perbankan tutup sampai 3 hari. Anda mungkin menyebutnya aneh dan rugi. Tapi sebagian pengamat menyebutnya unik dan hemat. Di atas segalanya, itulah tradisi dan keyakinan mereka. Hargai. Akan indah jadinya.
Anda masih protes? Tunggu dulu. Apakah Anda penduduk Bali? Apakah pendapat Anda dianggap penting bagi warga bali? Jika tidak, baiknya Anda diam saja. Hargai. Konon pemilik sebuah toko seluler di Kuta Bali pernah menghina tradisi ini. Yah wajar saja kalau warga merasa geram. Lalu, sebagian mengamuk dan merusak toko itu.
Setiap hari Minggu, di sejumlah kota di Papua, salah satunya Jayawijaya, warga dilarang jualan. Apapun agama mereka. Itu artinya 52 hari dalam setahun. Kalau Ramadhan, cuma 29 atau 30 hari. Saya pribadi pernah berkunjung ke tiga kota di Papua dan saya melihat ini diatur melalui Perda. Anda mau protes? Tunggu dulu. Apakah Anda penduduk Papua? Apakah pendapat Anda penting bagi warga Papua? Jika tidak, baiknya Anda diam saja. Hargai.
Setuju atau tidak, inilah Perda. Selama Ramadhan, rumah makan di beberapa kota, termasuk Serang, diminta untuk tidak beroperasi siang-siang, cukup sore dan malam saja. Di berbagai kota di Sumatera juga begitu, dengan atau tanpa Perda. Anda protes? Tunggu dulu. Apakah Anda penduduk Serang? Apakah pendapat Anda penting bagi warga Serang? Jika tidak, yah diam saja. Hargai.
Di Texas, warga biasa boleh menyimpan senjata api di mobil dan di rumah. Sementara di negara bagian lainnya di AS, tidak boleh. Ini ‘Perda’ mereka.
Perda berasal dari aspirasi rakyat setempat. Artinya kebiasaan ini sudah berlangsung puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Perda walaupun usianya baru sekian tahun atau belasan tahun berusaha mengukuhkan aspirasi ini. Semoga kita bisa memahami dan berhenti menghakimi.
Boleh-boleh saja kita berempati dan berdonasi kepada si ibu-ibu itu. Apalagi setelah digiring dan didramatisir oleh media. Tapi pikirkan juga Perda yang telah ditetapkan di Serang. Coba bayangkan, Anda buka bengkel di Bali ketika Nyepi. Atau buka lapak ketika Hari Minggu di Kabupaten Jayawijaya. Ending-nya juga sama, Anda bakal diciduk.
Saya awalnya juga memprotes penggerebekan dan penertiban rumah makan di Serang itu. Kok disita? Warga Serang merespons, “Untung cuma disita. Kalau menurut Perda, yah denda puluhan juta. Dan Perda ini sudah berlangsung sejak 2010. Mestinya setiap warga sudah paham walaupun buta huruf.” Fyi, kalau di Serang, mall juga mematuhi, bukan cuma pedagang kecil. Alhamdulillah, ada TK dan SD Khalifah di Serang, makanya sedikit-banyak saya tahu, hehehe.
Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak berpuasa? Non-muslim, musafir, orang sakit, muslimah haid, hamil, dan menyusui. Tenang. Mereka telah mengantisipasi. Aman kok. Terbukti mereka tetap tinggal di sana selama bertahun-tahun. Nggak protes. Kok kita orang luar yang sok tahu dan mau menggurui?
Sebenarnya, dalam pemahaman Yahudi dan Kristen ada juga anjuran untuk menghormati tradisi puasa. Lihat Imamat 23: 29 dan ayat-ayat lainnya. Tentu saja ini tiada kaitan sama sekali dengan dinamika muslim sekarang. Yah sekedar komparasi saja.
Saya pribadi tak pernah menyuruh orang untuk menghargai puasa saya. Toh ini urusan saya dengan Tuhan saya. Tapi saat suatu kota memutuskan sebuah Perda terkait Ramadhan, tak ada salahnya saya dan kita semua turut mengapresiasi. Bagaimanapun itu Perda, itu aspirasi.
Ramadhan tahun lalu saya sempat menemani guru saya non muslim untuk sarapan. Bagi saya nggak masalah. Tak mungkin saya tergoda dengan sarapannya. Btw, ibu saya rutin puasa Senin-Kamis. Ketika saya makan siang, beliau sering menemani saya. Bagi beliau nggak masalah. Itulah ‘Perda’ di rumah kami. Anda protes? Hehe. Share ya (ts/portalpiyungan)

Murottal AlQuran

Aqidah