News Update :

Video Ceramah

Ibadah

Ceramah Islam

Doa Doa Shahih

Hukum Haji dan Umroh dari Pinjaman di Bank

05 September 2016 16.50




assalamu’alaikum warahmatullah.
Ustad ana mau menanyakan apakah boleh seseorang pergi haji dan umroh dengan menggunakan pinjaman bank bagi PNS atau pegawai swasta yang memiliki gaji bulanan yang tetap? atas penjelasannya ana mengucapkan Jazakallahu.
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Abu Shabir yang dimuliakan Allah swt
Diantara syarat diwajibkannya seseorang pergi haji adalah memiliki kesanggupan untuk berangkat ke sana. Seorang yang berutang pada dasarnya termasuk orang yang tidak memiliki kesanggupan kecuali setelah dirinya melunasi utang-utang tersebut atau telah mendapatkan toleransi dari orang atau pihak yang memberikannya pinjaman akan penundaan pembayaran utang tersebut hingga setelah penunaian haji.
firman Allah swt :
وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً
Artinya : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Al Aimron : 97)
Diriwayatkan oleh al Baihaqi dari Abdullah bin Abi Aufa berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang seorang yang belum menunaikan haji atau berutang untuk haji? Beliau saw bersabda,’Tidak.” (HR. Baihaqi)
Demikian pula utang yang pelunasannya baru terjadi pada masa yang akan datang dan pembayarannya diambil dari pemotongan gaji atau pernghasilan tetapnya secara rutin setiap bulannya maka pada dasarnya ia bukanlah penghalang baginya untuk berhaji. Baik utang itu tidak terkait dengan ONH nya, seperti : cicilan kendaraan, cicilan rumah atau lainnya maupun utang untuk ONH itu sendiri.
Akan tetapi jika seseorang untuk biaya pergi hajinya melakukan pinjaman dari bank konvensional yang menerapkan praktek ribawi maka hal itu termasuk perkara yang tidak diperbolehkan meskipun dia memiliki kesanggupan melakukan pembayaran per bulannya dari pemotongan gajinya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir dia berkata, “Rasulullah saw melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.”
Dan apa yang dilakukannya itu termasuk tolong menolong atau bantu membantu dalam kemaksiatan dan dosa yang dilarang Allah swt.
وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ
Artinya “ Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah.” (QS. Al Maidah : 2)
Wallahu Alam
Ustadz Sigit Pranowo/eramuslim.com

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah Menurut Al-Qur'an dan Sunnah

04 September 2016 12.55




Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Allah telah menjadikan sebagian makhluk-makhluk ciptaan-Nya lebih utama atas sebagian yang lain. Allah mengistimewakan sebagian zaman, tempat, bulan, siang, dan malam. Allah juga telah melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (QS. Al-Qashshash: 68)

Allah telah mengistimemakan kumpulan hari di sepuluh Dzulhijjah atas kumpulan hari lainnya dengan karunia dan pahala, sebagaimana Allah muliakan Makkah dan Madinah atas tempat-tempat lainnya.

Sebentar lagi, -sebagian catatan kalender, Sabtu (3/09/2016)- kita sudah memasuki kumpulan hari mulia ini. Di mana Allah telah menyebutkan kumpulan hari ini di Kitab-Nya dan bersumpah dengannya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
“Walayaalin ‘Asyr” menurut Imam Al-Thabari adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli ta’wil (ahli tafsir).” (Jaami’ al Bayan fi Ta’wil al-Qur’an: 7/514)

Ibnu Katsir menguatkan penafsiran tersebut dengan mengatakan, “dan malam-malam yang sepuluh, maksudnya: sepuluh Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.” (Ibnu Katsir: 4/535)

Kemuliaan sepuluh hari ini juga disebutkan dalam Surat Al-Hajj dengan perintah agar memperbanyak menyebut nama Allah pada hari-hari tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 27-28)

Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini menukil riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhuma,  “al-Ayyam al-Ma’lumat (hari-hari yang ditentukan) adalah hari-hari yang sepuluh.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/239)

Kemuliaan sepuluh hari ini juga diakui umat-umat terdahulu. Allah berkisah tentang Nabi Musa ‘Alaihis Salam,

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.” (QS. Al-A’raf: 142)

Imam Ibnu Katsir di tafsirnya mengatakan, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa 30 hari itu adalah Dzulqa’dah, sedangkan sepuluh harinya adalah 10 hari di Dzulhijjah. Ini perkataan Mujahid, Masruq, dan Ibnu Juraij.”

Pada hari-hari tersebut Nabi Musa berpuasa, memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah Ta'ala.   
Hari-hari pemuliaan yang dijanjikan Allah berakhir pada yaum nahr (Idul Adha), Musa mendapatkan Taurat, dan pada hari itu pula Allah sempurnakan Dien Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Dari sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau pernah bersaksi bahwa hari-hari tersebut adalah kumpulan hari dunia yang paling agung.

Dari Ibnu Umar Radhiyallaahu 'Anhuma, dari Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامِ الْعَشْرِ – يَعْنِيْ عَشْرَ ذِي الْحِجَّةِ – قِيْلَ: وَلَا مِثْلُهُنَّ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا مِثْلُهُنّ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ عُفِرَ وَجْهَهُ بِالتُّرَابِ

Hari-hari di dunia yang palung utama adalah hari-hari sepuluh -yakni sepuluh hari pertama dalam bulan Dzul Hijjah-, Ada yang bertanya, ‘tidak pula sama baiknya dengan (jihad) di jalan Allah..?’ Beliau menjawab, ‘tidak pula sama dengan (jihad) di jalan Allah melainkan seorang pria yang wajahnya penuh dengan debu tanah’.” (HR. Al-Bazzar, Abu Ya’la dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Syaikh Al-Albani di Shahihut Targhib wat Tarhib dan Al-Jami’ush Shahih)
Beliau juga menerangkan keutamaan amal-amal shalih di dalamnya,


مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

"Tidak ada kumpulan hari yang amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dikerjakan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud dan  Ibnu Majah)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah lebih dicintai Allah Ta’ala daripada amal yang sama dikerjakan di kumpulan hari selainnya. Seluruh amal shalih dilipatgandakan pahalanya tanpa terkecuali.

Keutamaan tersebut bukan bagi amalnya saja, tapi juga bagi pelakunya. Bahkan disebutkan, ia lebih utama daripada mujahid fi sabilillah yang bisa kembali dari medan perang dengan membawa hartanya.

. . . Seluruh amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah dilipatgandakan pahalanya tanpa terkecuali. . .
Penutup
Kemuliaan dan keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat besar. Amal-amal shalih di dalamnya diistimewakan; lebih dicintai Allah dan dilipatgandakan pahalanya. Semua ini bagian dari nikmat Allah dan karunia-Nya untuk para hamba-Nya. Wajiblah bagi kita mensyukurinya dengan meningkatkan perhatian dan kesungguhan diri dalam ketaatan. Caranya, bersungguh-sungguh dalam menjalankan amal shalih dan memperbanyaknya daripada hari-hari sebelumnya.

Semua amal shalih dilipatgandakan pahalanya. Namun ada beberapa amal lebih spesial di hari-hari tersebut; di antaranya: haji dan umrah, udhiyah (berqurban), berpuasa (tanggal 9 dan hari-hari sebelumnya), dzikir dan takbir, shalat, sedekah, dan selainnya. Wallahu A’lam [PurWD/voa-islam.com] / ust.badrul tamam

Foto Sosok Tanpa Wajah Terekam Kamera Saat di Raudhah Masjid Nabawi

03 September 2016 13.13




Di media sosial beredar secara meluas sebuah foto yang merekam sesosok tanpa wajah yang tengah duduk di Raudhah Masjid Nabawi. Publik pun dibuat gempar. Momen foto tersebut diambil oleh seorang jamaah haji asal Mesir.

Jamaah tersebut pun kaget ketika mengetahui ada sosok tanpa wajah dalam foto yang diambil olehnya.

Jamaah haji yang memotret foto tersebut bahkan berani bersumpah bahwa ia telah memotret sosok tanpa wajah di Masjid Nabawi tersebut.


Sontak, foto tersebut mengundang kontroversi. Bagaimana kebenaran foto tersebut? Pertanyaan ini diajukan kepada KH Abdurrahman Navis, Direktur Aswaja Center NU Jawa Timur.

“Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga jika di Masjid Nabawi terjadi keanehan-keanehan, hal itu mungkin saja. Namun yang perlu ditelusuri adalah kebenaran dari orang yang menyampaikan hal itu. Apakah ia jujur dan berkata benar karena sekarang banyak foto editan,” terangnya dalam siaran di Radio Sam FM, baru-baru ini.


“Jadi kalau ada sosok yang wajahnya tidak kelihatan, itu mungkin saja. Tetapi yang perlu kita cek, benar tidak informasi itu. Bahkan ada yang katanya itu ketika dia thawaf melihat orang yang kepalanya seperti anjing atau kepalanya seperti hewan. Itu mungkin saja. Semua itu mungkin. Tetapi yang perlu dicek, benar nggak informasi itu,” lanjutnya.

“Jadi tentang yang di media sosial itu, saya tidak bisa menjelaskan benar atau tidaknya, karena hal itu diperlukan untuk cek dan ricek.” * [Tarbiyah/Syaf/voa-islam.com]

Saya Muak Liat Ahok, Tiap Hari Kerjanya Cuma Ngebacot! Itu Kata Politikus PDIP

02 September 2016 19.46




Politisi PDI Perjuangan, Arteria Dahlan, mengaku muak dengan sikap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. 

Pasalnya, Gubernur DKI Jakarta tersebut mengaku mau mengawal program prioritas pemerintahan sehingga tidak mau cuti kampanye Pilkada 2017 mendatang.

Padahal, Arteria Dahlan menegaskan, berdasarkan UU, cagub incumbent wajib cuti. Hal ini untuk menghindari penyalahgunaan fasilitas negara saat kampanye.

“Saya muak melihat bacotnya Ahok, koar-koar atas nama konstitusi dan seolah-olah hanya dia yang bisa benahin Jakarta. Enggak mau cuti karena takut anggarannya disalahgunakan. Memangnya kita meletakkan penggantinya bukan dengan penuh pertimbangan?”  ungkap Arteria Dahlan, Kamis (1/9).

Anggota Komisi II DPR ini menjamin bahwa Plt Gubernur DKI Jakarta terpilih nanti tentunya orang yang memiliki kemampuan mumpuni dengan kualifikasi yang bahkan melebihi Ahok.

“Publik harusnya sadar Ahok ini kan enggak kerja. Tiap hari ngebacot saja dan selalu buat polemik. Kapan dia kerja, dia main perintah-perintah anak buah. Begitu gagal, marah-marah dan salahkan anak buah. Jangan sampai nanti pegawai DKI jadi psikopat semua,” katanya.

Bukan hanya para pegawai di lingkungan Pemda DKI, Arteria pun mengaku dirinya bisa gila jika terus dimintai tanggapan soal ulah Ahok.

“Saya sebenarnya bisa gila juga kalau ngikutin dan selalu diminta tanggapin bacotnya Ahok tiap hari,” ujarnya.

Ahok sendiri pada saat Pilkada DKI 2012 lalu, meminta calon incumbent Fauzi Bowo mengambil cuti kampanye. Karena Ahok, yang saat itu menjadi cawagub DKI berpasangan dengan Jokowi, tak ingin ada cagub yang menggunakan fasilitas negara.

“Kita tidak takut. Kita hanya ingin menjadikan Jakarta sebagai contoh, dimana para calon gubernurnya taat aturan, yang incumbent saat kampanye dalam mengambil cuti,” ujar Ahok saat itu. (ts/rmol)/eramuslim.com

Tax Amnesty : Presiden dan Wakilnya Dihimbau untuk Ikut

06.36




Tax Amnesty akan gagal jika Presiden dan Menteri tidak mengunakan haknya dalam membayar pajak berdasarkan fasilitas. Sebab dengan demikian akan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat yang belum mengunakan fasilitas tax amnesty sebagai haknya.

"Sebab sangat tidak mungkin masyarakat akan mengunakan haknya terhadap fasiltas tax amnesty kalau petinggi parpol, elit politik kaya raya dan pejabat negara kaya raya, baik yang berasal dari pengusaha kaya raya atau menjadi pengusaha setelah pensiun lalu hartanya berlimpah secara instan tidak memberikan contoh untuk mengunakan hak fasilitas tax Amnesty.
Nah, kayaknya Pak Joko Widodo yang asalnya pengusaha industri mebel, siapa tahu masih ada pajak yang belum dibayar dari hasil eksport mebelnya serta ada pajak penghasilan pribadi yang belum dilaporkan. Kan sangat mantap tuh kalau Pak Joko Widodo mengunakan haknya untuk dapat potongan pajak," kata Arief Poyuono, Wakil Ketua Umum Gerindra melalui siaran persnya.

Pun dengan Wakilnya, ia juga menyarankan hal yang sama. "Begitu juga dengan Pak JK yang merupakan saudagar kaya raya dan banyak punya usaha pribadi dan keluarga harus mengunakan hak fasilitas tax amnesty, loh."

Hal itu juga ia sarankan kepada para mantan petinggi di negeri ini. "Nah! Begitu juga dengan mantan-mantan Presiden, Wakil Presiden, petinggi TNI Polri, Jaksa, Hakim ,Menteri berserta keluarganya yang tahu-tahu menjadi kaya raya dan banyak menjadi pengusaha dadakan dihimbau sebaiknya mengunakan hak fasilitas tax amnesty biar tidak ada suudzon atau fitnah terkait asal kekayaan yang dimiliki saat ini sehingga harta kekayaannya pun menjadi legal sesuai dengan motto Tax Amnesty yaitu slogan: ungkap, tebus dan lega." (Robi/voa-islam.com)

Video Debat Dr. Zakir Naik vs Pastor Ruknuddin Henry Pio

23 Juli 2016 07.36


Dr. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan Dr. Zakir Naik adalah seorang pembicara umum Muslim India, dan penulis hal-hal tentang Islam dan perbandingan agama. Secara profesi, ia adalah seorang dokter medis, memperoleh gelar Bachelor of Medicine and Surgery (MBBS) dari Maharashtra, tapi sejak 1991 ia telah menjadi seorang ulama yang terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Ia menyatakan bahwa tujuannya ialah membangkitkan kembali dasar-dasar penting Islam yang kebanyakan remaja Muslim tidak menyadarinya atau sedikit memahaminya dalam konteks modernitas.

Kita terkadang secara “stigma” menyamaratakan bahwa Islam adalah arab dan arab adalah Islam. Padahal nyatanya tidak begitu. Terbukti Abu Jahal dan Abu Lahab pun orang arab tulen akan tetapi mereka menolak agama Islam. Itu adalah contoh ummat yang telah berlalu. Di abad ini pun ternyata tidak jauh berbeda, banyak juga orang arab yang tidak menerima Islam bahkan memusuhi Islam. Salah satunya seperti pastor Ruknuddin Henry Pio. Dia adalah salah seorang missionaris kristen Arab yang menolak ajaran-ajaran Islam. Di sisi lain, banyak juga orang non Arab yang justru menganut Islam dan bahkan membela Islam sepenuh jiwa raga, salah satu contohnya adalah Dr. Zakir Abdul Karim Naik, atau biasa dikenal Zakir Naik.

Dalam suatu kesempatan, mereka pernah berdebat sengit tentang iman, terutama dalam masalah “Benarkah Yesus Disalib?”. Perdebatan tersebut menjadi sangat terkenal dan direkam dalam kamera, dan kini Anda dapat menikmati dan mengambil manfaatnya melalui video di bawah, kami sajikan dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia:

Debat Dr Zakir Abdul Karim Naik dengan Pastor Ruknuddin Henry Pio Versi Bahasa Indonesia (Full)


Was Jesus Really Crucified? Dr. Zakir Naik IRF vs. Pastor Ruknuddin Henry PIO complete (English)

Menunaikan Zakat Kepada Saudara Kandung, Bolehkah?

02 Juli 2016 21.09


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Allah telah tetapkan 8 golongan penerima zakat di QS. Al-Taubah: 60. Tidak boleh zakat diserahkan kepada selain mereka.
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengelola-pengelolanya, para mu’allaf, serta untuk para budak, orang-orang yang berhutang, dan pada sabilillah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang telah diwajibkan Allah. Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.” (QS. Al-Taubah: 60)
Ayat tersebut diawali dengan INNAMA yang berposisi sebagai Adatul Hashr (kata pembatas) yang memberi makna bahwa pihak-pihak penerima zakat terbatas yang disebutkan di ayat tersebut. “Karena itu, tidak boleh memberikan zakat kepada seseorang atau pihak yang tidak termasuk dalam delapan golongan ini,” kata Syaikh Abu Malik Kamal di Shahih Fiqih Sunnah: 3/82)
Jika saudara kandung termasuk salah satu dari golongan penerima zakat – seperti fakir miskin atau terlilit hutang- maka boleh mengeluarkan zakat untuknya. Syaratnya, nafkah suadara tadi tidak berada di bawah tanggungannya. Bahkan menyerahkan zakat kepadanya lebih utama dari pada ke orang lain.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sedekah kepada orang miskin adalah (dapat pahala,_pent) sedekah. Sedangkan sedekah kepada kerabat ada dua pahala; pahala sedekah dan pahala silaturahim.” (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasan)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah berkata,
يجوز أن تدفع زكاة الفطر وزكاة المال إلى الأقارب الفقراء ، بل إنَّ دفعَها إلى الأقارب أولى من دفعها إلى الأباعد ؛ لأن دفعَها إلى الأقارب صدقةٌ وصلةٌ ، لكن بشرط ألا يكون في دفعها حمايةُ ماله ، وذلك فيما إذا كان هذا الفقير تجب عليه نفقته أي على الغني ، فإنه في هذه الحال لا يجوز له أن يدفع حاجته بشيء من زكاته  لأنه إذا فعل ذلك فقد وفر ماله بما دفعه من الزكاة، وهذا لا يجوز ولا يحل.

Zakat fitrah dan zakat mal boleh diberikan kepada kerabat dekat. Bahkan memberikan zakat itu kepada kerabat dekat lebih utama daripada diberikan kepada kerabat jauh. Karena memberikan zakat kepada kerabat dekat termasuk sedekah dan silaturahim. Tetapi dengan syarat, mengeluarkan harta zakat itu bukan sebagai trik menjaga (melindungi) hartanya. Yakni, saat si fakir itu menjadi beban tanggungannya (dalam urusan nafkahnya_red), yakni si orang kaya itu. Dalam masalah ini tidak boleh memenuhi kebutuhan (tugasnya) dari zakatnya sendiri. Karena jika ia lakukan itu maka ia telah tutupi kewajiban nafkah dari hartanya dengan zakat yang telah dikeluarkannya. Ini tidak boleh dan tidak halal.” (Majmu’ fatawa wa Rasail, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, jilid XIX, dikutip dari situs islamwa.net)
Beliau menambahkan,
أما إذا كان لا تجب عليه نفقته، فإن له أن يدفع إليه زكاته، بل إن دفع الزكاة إليه أفضل من دفعها للبعيد لقول النبي صلى الله عليه وسلم: صدقتك على القريب صدقة وصلة

Adapun jika nafkah kerabatnya itu bukan menjadi tanggungannya, ia boleh serahkan zakatnya itu kepadanya. Bahkan, memberikan zakat kepadanya lebih utama daripada menyerahkannya kepada orang jauh, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Sedekahmu kepada orang dekat (kerabat) adalah sedekah dan silaturahim.
Pendapat Syaikh Ibnu Bazz Rahimahullah juga serupa,
أما بقية الأقارب كالإخوة، والأعمام، وبني العم، وبني الخالة، وأشباههم، فيعطون الزكاة إذا كانوا فقراء، أو غارمين، عليهم ديون ما يستطيعون أدائها

Adapun kerabat yang lain seperti saudara kandung, paman dari pihak Bapak, saudara sepupu, dan yang serupa dengan mereka; mereka diberi zakat jika mereka miskin atau orang-orang yang berhutang, mereka punya hutang yang tak sanggup membayarnya.
Beliau berdalil dengan QS. Al-Taubah: 60 di atas. Dan zakat itu bernilai sedekah dan silaturahim.
Kesimpulanya, Kita boleh menyerahkan zakat kita kepada suadara kandung, saudara seibu atau sebapak, dan paman kita yang miskin atau terlilit hutang.  Mereka itu boleh menerima zakat dari kita. Syaratnya, nafkah saudara kita itu bukan menjadi tanggungan kita. Bahkan menunaikan zakat kepadanya lebih utama dari ke selainnya; karena memiliki keutamaan sedekah dan silaturahim. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

oleh ustadz badrul tamam

Sahur Ketika Adzan Berkumandang

20 Juni 2016 05.57




Pertanyaan:
Ketika sedang enak-enaknya sahur, tiba-tiba suara azan Shubuh terdengar. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:
Orang yang sedang makan sahur tidak lepas dari dua keadaan:
Pertama: Jika ia sedang mengunyah makanan atau sedang meneguk air yang berada di mulutnya maka hendaknya ia meneruskannya sampai semua makanan atau air tersebut masuk ke dalam perutnya, dan tidak perlu memuntahkan makanan atau minuman keluar. Dalilnya adalah  sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إذا سمع أحدكم النداء والإناء على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته
” Jika diantara kamu mendengar adzan, sedang piring sedang di tangannya, maka hendaknya dia jangan meletakkannya sebelum menyelesaikan hajatnya.” (Hadits Shahih, HR Abu Daud dan Ahmad).

Maksud hadits di atas adalah jika seseorang sedang mengunyah makanan atau sedang meneguk air maka hendaknya diteruskan sampai selesai.

Kedua: Jika dia tidak sedang mengunyah atau meneguk air, tetapi di dalam piringnya atau di dalam gelasnya masih  terdapat makanan atau minuman yang tersisa maka dalam hal ini dia harus menghentikan makan atau minumnya. Kalau dia tetap meneruskannya maka puasanya batal. Dalilnya adalah firman Allah Ta’alaa,
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al -Baqarah: 187).

Ayat di atas menyuruh kita untuk berhenti makan sahur ketika datang fajar atau ketika terdengar adzan subuh. Perintah tersebut mengandung arti wajib. Jika dilanggar maka puasanya menjadi batal.
Sumber: http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/392/sahur-tanya-jawab-puasa/

Murottal AlQuran

Aqidah

Tanya Jawab

 

© Copyright Indahnya Islam 2010 - 2016 | Powered by Blogger.com.