Judul artikel ini merupakan lanjutan dari artikel saya yang berjudul Mengapa Kita Perlu Membuat Resensi Buku. Artikel ini saya ambil dari iwananashaya yang juga membahas tentang resensi buku. Silahkan dibaca dan disimak artikel dibawah ini :Keuntungan menulis resensi buku.
Seseorang yang menekuni resensi buku di media massa akan memperoleh keuntungan ganda. Di samping ia akan memperoleh honor dari penerbit surat kabar, ia juga akan memperoleh honor dari penerbit buku, setelah ia menyerahkan kliping resensinya yang dimuat di media massa.
Tidak hanya itu, ia juga dapat memperoleh buku baru secara gratis yang diberikan penerbit buku untuk diresensi kembali. Kedudukan peresensi adalah mitra penerbit buku dan penerbit surat kabar. Ia memberikan jasa bagi surat kabar dan juga memberikan kesempatan iklan gratis bagi penerbit buku. Jangan heran, jika suatu saat penulis resensi, secara tidak terduga dapat diangkat sebagai tim khusus peresensi, dari suatu penerbit buku, tentunya dengan gaji yang khusus.
Memahami inti resensi.
Kata resensi berasal dari bahasa Belanda recensie. Orang Belanda mengambil kata tersebut dari Bahasa Latin recensere, yang bermakna memberi penilaian. Dalam Bahasa Inggris digunakan review untuk mengupas isi buku, pertunjukan musik, seni tari, seni lukis, film, drama dan sebagainya.
Dari asal kata di atas, resensi buku dapat dipahami sebagai langkah memberikan penilaian, mengungkapkan kembali isi buku, memberikan ulasan, membahas, mengkritik ataupun meringkas. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku ialah untuk menginformasikan apa saja yang termuat dalam buku itu secara sekilas kepada orang lain.
Di dalam prakteknya, khususnya di media massa, resensi buku lebih banyak dimanfaatkan sebagai suatu cara memperkenalkan atau mempromosikan buku-buku baru dari penerbit kepada masyarakat umum melalui media cetak.
Istilah resensi buku di beberapa koran atau majalah, sering diganti dengan penyebutan lain, yang intinya tetap sama, seperti: apresiasi buku, info buku, bedah buku, tinjauan buku, timbangan buku, rehal, maktabah, sorotan buku, ulasan buku, berita buku dan sebagainya.
Hendaknya peresensi memahami dulu tujuan resensi itu sendiri. Tujuan dari kehadiran rubrik resensi pada media massa lebih lanjut ialah:
a. Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam buku.
b. Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau masalah yang muncul dalam sebuah buku.
c. Memberikan pertimbangan kepada pembaca, apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
d. Menjawab pertanyaan yang muncul jika seseorang melihat buku baru terbit, seperti: Siapa pengarangnya? Mengapa ia menulis buku itu? Apa pernyataannya? Bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang ditulis penulis lain? dsb.
e. Agar pembaca memperoleh bimbingan dalam menilai buku-buku.
f. Agar setelah membaca resensi, pembaca berniat membaca atau mencocokkan seperti apa yang telah ditulis dalam resensi.
g. Bagi yang tidak ada waktu untuk membaca buku, ia dapat mengandalkan resensi sebagai sumber informasi.
Tipologi resensi.
Ada beberapa tipe resensi buku, yang semuanya bertujuan menginformasikan isi buku tersebut. Masing-masing resensi tersebut memiliki kekurangan dan kelabihannya masing-masing. Tipologi resensi tersebut ialah:
a. Meringkas. Setiap buku tentu memaparkan berbagai macam persoalan. Dan dari sekian persoalan yang ada dalam sebuah uraian yang ada dalam sebuah buku, dapat diringkas menjadi uraian yang padat dan jelas.
b. Menjabarkan. Adakalanya sebuah buku sangat sulit dipahami oleh kaum awam, seperti pada buku-buku jenis terjemahan atau disiplin ilmu tertentu. Maka tugas peresensi di sini adalah menjabarkan muatan isi buku tersebut sebisa mungkin. Hal tersebut memang tidak mudah. Untuk itu tidak bisa gegabah dengan menganggap mampu pada buku yang berada di luar bidang keilmuannya. Bilapun akan dicoba juga, maka ia hendaknya meminta bantuan komentar kepada yang dipandang ahli di bidangnya.
c. Menganalisis. Resensi jenis ini, lebih berupa memberikan analisa atau ulasan terhadap segala aspek yang ada dalam buku tersebut. Mulai dari metode penulisannya, cara pemaparannya, maupun materi atau isinya. Dengan demikian, seorang penulis resensi buku jenis ini membutuhkan seperangkat wawasan keilmuan yang cukup luas dan dalam serta memadai berkaitan dengan buku yang diresensinya. Tanpa itu, sulit suatu resensi dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
d. Membandingkan. Dapat juga meresensi dilakukan dengan cara membandingkan dengan buku-buku sejenis yang pernah ada. Buku yang terbit belakangan dapat diperbandingkan, baik dalam hal materi, penampilan data, cara pemaparan, teknik penulisan dan sebagainya. Di samping ia juga menyebutkan kekurangan dan kelebihan buku tersebut dibandingkan buku-buku yang lainnya. Dengan demikian akan terlihat jelas kualitas masing-masing buku tersebut.
e. Memberikan penekanan. Buku-buku bunga rampai atau kumpulan tulisan, dapat diresensi dengan cara ini. Karena begitu banyak masalah dan kadang sejumlah masalah tersebut, ditulis oleh banyak orang, sehingga membuat penulis resensi sulit menentukan maslah mana yang perlu ditonjolkan. Untuk itu perensensi dapat mengambil benang merah di antara tulisan-tulisan tersebut, kemudian dipadukan dengan pendapat tokoh-tokoh yang sudah punya nama di antara penulis yang ada.
Teknik menangkap inti buku.
Prinsip meresensi buku adalah mencari tema pokok dari buku itu. Teknisnya, dengan cara memberi uraian dalam bentuk ringkasan, ulasan, atau kajian dari setiap persoalan yang berkaitan erat dengan tema buku itu.
Keragaman dan jenis buku sering menjadi sebab seorang penulis resensi gagal, karena tidak berhasil menemukan temanya. Agar tidak demikian, maka sebelum meresensi yang perlu dilakukan adalah memahami buku tersebut dengan cara membacanya, dengan pembacaan sesuai dengan kebutuhan.
Ada beberapa cara membaca yang dipandang efektif, yaitu (1) selection, (2) skepping, (3) scanning.
Hal-hal mendasar perlu dibaca ialah: (1) kata pengantar dan pendahuluan, (2) daftar isi, (3) ringkasan buku yang biasa terdapat pada bagian belakang, (4) hal-hal yang dianggap penting. Catat hal-hal yang dianggap penting. Setelah itu, catatan tadi dirumuskan dalam suatu alur penulisan yang baik.
Bagaimana berlatih menulis resensi buku?
Untuk mulai berlatih, seseorang dapat melatih pandangannya, melatih pengorganisasian pikirannya, serta melatih pula perasaan dan kepekaannya. Caranya? Ambil buku ukuran tipis, beserta sebuah pensil. Lalu baca buku itu dengan seksama. Sambil membaca ia gunakan pensil itu untuk memberi tanda pokok-pokok pikiran yang penting. Setelah selesai membaca, ia mencoba membaca ulang pokok-pokok pikiran dari buku itu melalui bagian-bagian yang sudah ia beri tanda.
Sampai di sana, mulailah belajar menilai, dengan memberi penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan seperti berikut: Apakah yang dibicarakan dalam buku itu? Apakah maksud penulisnya? Sejauh manakah ia berhasil mencapai tujuannya? Apakah tulisannya mudah dipahami? Apakah bahasanya lancar dan enak untuk dibaca? Apakah masalah yang dibahas berharga bagi kelompok umum atau hanya kelompok khusus saja? Apakah cara penyajiannya menarik? Apakah penulisnya memang kompeten di bidang yang ditulisnya? Apakah tulisannya dibuat dengan riset yang memadai? Apakah gagasan yang ditulisnya baru? Semua pertanyaan itu coba Anda jawab, lalu Anda ramu dalam bentuk tulisan yang dikemas secara populer. Jika hal itu ia lakukan, berarti ia telah melakukan pengulasan, peninjauan atau pembuatan sebuah resensi buku, di mana ia menilai, menimbang dan mengevaluasi isi buku.
Sebagai sebuah resensi buku, minimal harus selesai melakukan pertimbangan atas buku yang ia baca, denganmenunjukkan alinea mana yang dianggap utama atau yang dianggap lemah. Penilaian yang diberikan berdasarkan pertimbangan yang rasional, bersifat obyektif dan bukannya berdasarkan oleh rasa suka dan tidak suka. Lalu menyajikannya sesuai dengan kepada kalangan siapa resensi buku itu ditujukan? Untuk siapa pula buku yang ia ulas itu ditujukan? Untuk kelompok kecil atau umum? Hingga di sini berarti ia sudah sampai pada peresensian.
Namun, tidak disalahkan jika ia juga memiliki kecenderungan, misalnya lebih besar pada penggambaran isi buku atau resensi deskriptif. Begitu juga jika kecenderungannya pada perbandingan dengan karya lain, istilahnya resensi komparatif. Lebih-lebih jika ia mampu memilih kecenderungan pada penilaian, atau resensi analisis.
Langkah peningkatan.
Untuk membuat resensi buku lebih apik, pada latihan berikutnya seseorang dapat mengusahakan resensinya lebih obyektif. Penilaian diusahakan lebih tertuju pada apa yang ada dalam buku, serta tidak begitu terpengaruh oleh penilaian dari orang lain. Lebih baik jika ia memiliki pernyataan yang orisinal, mampu membandingkannya dengan buku penulisnya yang sebelumnya jika memang ada.
Yang penting bagi penulis resensi adalah menunjukkan kemampuannya dalam menunjukkan keutamaan dan kelemahan dari buku yang diresensi. Bukannya mengutak-atik pribadi penulisnya. Begitu pula mengecam tanpa alasan dan memuji tanpa alasan adalah langkah yang keliru. Sebaiknya jika penulis resensi memuji atau mencela, maka harus dapat pula menyertakan alasan dan buktinya.
Kemampuan utama peresensi.
Mengenai penjelasan di atas, kini dapat digambarkan bahwa kemampuan dasar yang perlu dimiliki seorang penulis resensi buku di antaranya:
a. Memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku. Hal ini dapat diketahui melalui kata pengantar atau pendahuluan buku. Kemudian dicari apakah tujuannya itu direalisasikan pada seluruh bagian buku?
b. Menyadari sepenuhnya tujuan meresensi, karena hal itu sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat.
c. Memahami betul latar belakang pembaca yang akan menjadi sasarannya: selera, tingkat pendidikan, asal kalangan, dan sebagainya. Resensi yang diperuntukkan dimuat pada suatu media akan berbeda jika diperuntukkan dimuat di media lain yang berbeda segmen pembacanya.
d. Memahami karakteristik media massa cetak yang akan memuat resensi. Setiap media massa memiliki identitas termasuk visi dan “misi”. Dengan demikian, seorang penulis resensi akan mengetahui kebijakan dan resensi macam apa yang disukai redaksinya. Kesukaan tersebut dapat diketahui dari frekuensi jenis buku yang dimuat pada rubrik resensinya.
Teknik penyajian resensi buku.
Dalam penyajian karya resensi, penulis perlu memahami unsur-unsur pembangun resensi buku. Unsur-unsur tersebut merupakan penentu bagi sajian sebuah resensi.
a. Judul resensi. Judul resensi sebaiknya dibuat secara menarik serta benar-benar menjiwai seluruh isi tulisan atau inti tulisan. Ia tidak harus ditetapkan terlebih dulu, sebab ia dapat dibuat atau diperbaharui setelah seluruh tulisan resensi selesai dibuat.
b. Menyusun data buku. Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
• Judul buku (jika terjemahan, tulis judul aslinya)
• Penulis (jika terjemahan, baik juga ditulis penterjemahnya, editor atau penyuntingnya)
• Penerbit
• Tahun terbit, beserta cetakannya
• Tebal buku (berapa halaman)
• Harga buku (jika diperlukan)
c. Membuat lead (pembuka). Pembuka dapat dimulai dengan:
• Memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperolehnya
• Membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik yang ditulis oleh penulis buku tersebut maupun oleh penulis lain
• Memperkenalkan kekhasan penulisnya
• Memaparkan keunikan buku
• Merumuskan tema buku
• Mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku
• Mengungkapkan kesan terhadap buku
• Memperkenalkan penerbit
• Mengajukan pertanyaan
• Membuka dialog
• Snaper (kata singkat mengejutkan)
d. Isi atau tubuh resensi. Isi atau tubuh resensi biasanya dapat dibangun oleh:
• Sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis
• Ulangan singkat buku dengan kutipan secukupnya
• Keunggulan buku
• Kelemahan buku
• Rumusan kerangka buku
• Tinjauan bahasa
• Tinjauan penulisan
e. Penutup resensi buku. Bagian penutup resensi, biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa. Untuk siapa yang dimaksud menjelaskan kalangan pembaca mana, serta alasan pengkategorian tersebut.
Dikutip dari BUKU: BERDAKWAH LEWAT TULISAN Penulis: AEP KUSNAWAN Penerbit: MUJAHID PRESS Semoga artikel diatas dapat bermanfaat bagi kita semua. amien.....

