News Update :

Mengapa Zainudin Maidin Menghina Habibi dan Abdurrahman Wahid?

21 Desember 2012 17.04



Nampaknya hubungan antara Indonesia - Malaysia memasuki tahap-tahap krisis. Ibaratnya hubungan antara Indonesia - Malaysia seperti gelombang air laut. Tempo-tempo meninggi, dan kemudian mendatar. Tetapi, sekarang benar-benar memasuki tahap krisis. Karena, sudah menyentuh terhadap dua lambang negara, yaitu mantan Presiden Habibi dan Abdurrahman Wahid.
Seperti dikemukakan oleh Presiden SBY, yang menyatakan, bahwa hubungan Indonesia-Malaysia tampaknya makin sulit didinginkan. Pernyataan Presiden SBY itu, dikemukakan saat melakukan kunjungan singkat ke negeri jiran--18 hingga 19 Desember-- politikus senior Malaysia yang baru saja menghina mantan Presiden B.J. Habibie, tetapi Zainudin Maidin,  meluaskan penghinaan kepada mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dikutip di blog pribadinya,  Rabu (19/12) pagi, Zainudin mengecam Habibie dan Gus Dur sebagai pemimpin Indonesia yang tidak lagi menghormati kedaulatan Malaysia. Kedua mantan RI-1 ini dinilai sering turut campur dalam urusan politik dalam negeri Malaysia dan "mau mengajar demokrasi pada kami."
Sekadar diketahui sebelumnya Zainudin menuding Habibie sebagai pengkhianat bangsa. Ia menuliskannya dalam tajuk rencana media resmi UMNO, Utusan Malaysia. Zainudin menjadi pemimpin redaksi di koran tersebut pada 1982.
Dalam blog beralamatkan www.zamkata.blogspot.com, Zainudin menuliskan judul ulasan ‘Demonstrasi Reformasi Hasil Konspirasi dengan Habibie, Amien Rais dan Gus Dur’. Tulisan dilanjutkan dengan kalimat menggunakan huruf besar semua berbunyi,” Sedarlah! Insaflah Masyarakat Cina Malyasia! Adakah Ini Yang Anda Mahu? Adakah Ini Yang Anda Kejar?".
Zainudin membandingkan kondisi sekarang dengan zaman Presiden Soeharto. Ketika itu, kata dia, Soeharto dan Perdana Menteri Tun Abdul Razak, sepakat untuk menjaga hubungan baik kedua negara, dengan tidak mencampuri urusan politik masing-masing. Zainudin sendiri selain pernah menjadi Menteri Keuangan, juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Harian Utusan Malaysia.
Zainudin menuliskan pula, “Indonesia mahu menghentikannya dan kita mahu memulakannya dengan ajaran Anwar Ibrahim. Orang Cina telah mulai meniru budaya ini dan akibatnya suatu masa nanti akan menimpa diri mereka sendiri. Sayangilah perniagaan anda !”
Zainudin tampaknya tidak senang dengan dukungan yang ditunjukkan Gus Dur dan Habibie pada mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Sejak pengadilan menyatakan Anwar tak terbukti melakukan tindakan homoseksual --yang di Malaysia dianggap tindak pidana--, posisi politik Anwar memang menguat. Partainya, Partai Keadilan Rakyat, kini memiliki kursi di parlemen.
Perbuatan ini, tulis Zainuddin, sangatlah melukakan hati rakyat Malaysia serta tidak menghormati kepimpinan negara Malaysia yang sah; kedudukan Perdana Menteri Datuk Seri Datuk Seri Najib dan terutama sekali Mantan Perdana Menteri Tun Dr. Mahathir yang dihormati dunia termasuk rakyat Indonesia.
"Ajaran ini mungkin mudah untuk diterima oleh Anwar Ibrahim yang sejak zaman bangku kuliah menderita rendah diri dan merasakan Malaysia serba kekurangan dan kerana itulah Anwar mengimpor formula "demokrasi demonstrasi" ke Malaysia."
Menurut Zainudin, rakyat Indonesia sekarang berada dalam euforia demokrasi setelah keluar dari penindasan politik sekian lama. "Kegairahan euforia demokrasi Indonesia ini membuat sebagian pihak di Indonesia --terutama Gus Dur dan Habibie-- memandang kecil demokrasi Malaysia dan mau mengajar demokrasi kepada kami," tulisnya.
Malaysia menolak meminta maaf  atas penginaan mantan Menteri Penerangannya, Zainudin Maidin terhadap mantan Presiden B.J. Habibie. Namun Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Rais Yatim, mengatakan  telah meminta Zainudin tak mengulangi sikapnya itu.
“Ini bukan waktunya untuk mengkritik mantan pemimpin seperti pak Habibie,” kata Rais Yatim di Kuala Lumpur, Selasa (18/12). “Hal ini tak seharusnya terjadi. Itu pendapat pribadi bukan resmi pemimpin apalagi pemerintah Malaysia.”
Dia juga mengaku sudah mengingatkan mantan Menteri Penerangan Zainuddin Maidin atas pernyataan mengenai mantan Presiden B.J. Habibie. “Zainudin sudah diberi tahu tentang keaadaan sebenarnya dan seharusnya dia lebih berhati-hati di masa mendatang,” kata Rais.
 Kata Rais, surat kabar tersebut bukan lidah resmi Umno dan pemerintah. “Itu adalah suatu media yang memberitakan masalah orang melayu, bumiputera, politik dan sebagainya. Memang dekat dengan pemerintah, tetapi bukan lidah resmi,” kata dia.
Rais berharap Zainudin memohon maaf kepada Habibie. “Itu yang paling betul,” kata dia. “Tetapi baik jika beliau berpikir dan mohon maaf secara terbuka, ini yang paling baik.”
Politis
Menanggapi komentar Zainudin Maidin, Katib Syuriah PWNU Jatim, KH Syafruddin Syarif melihat adanya unsur politis dalam penghinaan yang dilakukannya terhadap Gus Dur.
“Saat Anwar Ibrahim menjabat sebagai Deputi Perdana Meneteri Malaysia, antara Indonesia yang dipimpin Gus Dur dengan pemerintah Malaysia telah terjadi hubungan yang sangat baik.” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (19/12). Pihaknya berharap agar segera ada permintaan maaf, karena bisa memicu gejolak di kalangan muslim.
Dan dari hal itulah, lanjut Syafruddin, ia melihat adanya ketidaksenangan Zainudin dengan hubungan baik tersebut. “Karena Zainudin saat itu merupakan lawan politik dari Anwar Ibrahim,” tandasnya.
Ia pun sangat menyesalkan sikap antipati Zainudin yang melontarkan beberapa hinaan kepada Gus Dur. “Seharusnya sebagai seorang mantan menteri penerangan, Zainudin tak pantas bersikap tidak seperti itu. Seharusnya dia harus lebih bisa menjaga hubungan baik dari kedua belah pihak (Indonesia-Malaysia, red),” sesalnya.
Syafruddin menambahkan, Gus Dur merupakan tokoh Islam yang dihormati umat islam bahkan umat penganut agama lain. “Apa yang telah dilontarkan kepada Gus Dur sangat tidak tepat, karena Gus Dur saat menjadi presiden selalu menjaga hubungan baik dengan Malaysia,” tegasnya.
Bahkan ia menjelaskan, adanya unsur-unsur politis dari komentar-komentar yang dikeluarkan oleh Zainudin. Ia pun mengharapakan, agar masyarakat Indonesia tidak terprovokasi dengan komentar-komentar dari Zainudin.
“Saya melihat adanya unsur kepentingan untuk dirinya. Dukungan yang ditunjukkan Gus Dur dan Habibie kepada  Anwar Ibrahim membuatnya tidak senang, karena saat ini partai Anwar Ibrahim merupakan penguasa kursi di parlemen,” tandasnya.
Ia pun meminta agar sebagai masyarakat Indonesia tidak terpancing dengan apa yang hinaan-hinaan yang dilontarkan Zainudin kepada mantan-mantan presiden Indonesia yaitu Gus Dur dan Habibie.
Tidak Ingin Seperti Indonesia?
Tokoh-tokoh UMNO Malaysia sangat sadar dengan langkah-langkah Anwar Ibrahim yang sekarang menjadi "bintang" oposisi di Malaysia, dan akan terus menggerus kekuasaan UMNO. Tentu, ini menjadi sangat sensitif, ketika berkaitan dengan puak Melayu. Di mana sejarah berdirinya Malaysia berkat perjuangan Muslim Melayu.
Selama berabad-abad puak Melayu dijajah Inggris, dan kemudian Inggris memasukkan Cina ke daratan Malaysia sesudah menguasai Hongkong, dan masuklah Cina ke dalam pusat-pusat ekonomi Malaysia dan menjadi alat penjajah Inggris.
Peristiwa yang menyakitkan puak Melayu, tentu bukan hanya golongan Cina, yang sudah menguasai ekonomi, tetapi kekuatan Cina Malaysia, melakukan langkah yang dramatis, dan mengambil keputusan mendirikan negara sendiri, dan menjadi sebuah Republik Singapura. Sekarang ini, Singapura menjadi kekkuatan Cinese Overseas (Cina Perantauan) yang diketuai Perdana Menteri Lee Kuan Yew.
Kalangan politisi Malaysia sangat kawatir dengan langkah Anwar Ibrahim, yang lebih liberal, dan hanya akan menghancurkan puak Melayu sebagai entitas Muslim. Pandangan Anwar Ibrahim yang liberal dan pluralistik, hanya akan menghancurkan dominasi puak Melayu, bukan hanya secara politik, tetapi secara ekonomi. Ini sebuah ancaman yang serius.
Di Jakarta kalangan media-media sekuler, seperti Kompas dan lainnya, terus memacu dan mendorong agar Anwar Ibrahim dapat menang, khususnya melawan kalangan UMNO, yang sekarang ini mendominasi politik Malaysia. Dukungan kepada Anwar Ibrahim ini sangat penting, yang akan dapat menggeser kalangan Melayu kepada Cina.
Media seperti Kompas tak henti-henti meneriakkan pluralisme (kemajemukkan), yang intinya ingin menghilangkan sikap fanatik kalangan Melayu, terutama kalangan Muslim, dan kemudian menjadi longgar dapat menerima kalangna Cina, dan sesudah itu kalangan Cina menguasai ekonomi negeri itu. Langkah media seperti Kompas dan Sinar Harapan itu, caranya dengan istilah "war by proxy", dan perlahan-lahan mengambil alih (mentake over) negara.
Malaysia secara resmi menjadikan Islam sebagai agama resmi negara, tidak mungkin orang-orang Kristen di Malaysia melakukan pemurtadan seperti di Indonesia menganut Pancasila. Di Malaysia orang Kristen tidak dapat mengkampanyekan agamanya melalui TV. Bandingkan dengan Indonesia. Menjelang Natal seperti sekarang ini, layaknya Indonesia sudah seperti negeri Salibis.
Anwar Ibrahim hanya digunakan kekuatan Salibis dan sekuler di Indonesia yang ingin menghancurkan puak Melayu. Malaysia dibangun oleh para ulama dan kiai yang berjuang menghadapi penjajah. Bukan orang-orang Cina yang sekarang ini sudah menjadi kekuatan politik dan ekonomi Malaysia. Sementara itu, Habibie dan Abdurrahman Wahid, tokoh liberal dan pluralis, yang hanya akan menguntungkan kalangan liberal dan Cina.

Sumber: Voa-islam.com